Benarkah Tidur Lagi Setelah Sahur Bisa Merusak Otak? Ini Kata Dokter

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Rabu, 11 Mar 2026 17:15 WIB

Hampir setiap orang mengalami perubahan pola tidur selama Ramadan. Lantas, apa efeknya pada otak? Benarkah kebiasaan itu bisa merusak otak? Ilustrasi. Pola tidur yang buruk saat Ramadan tidak serta merta bisa merusak otak. (istockphoto/Adene Sanchez)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan pola tidur menjadi hal yang hampir tak terhindarkan selama bulan Ramadan. Banyak orang tidur lebih larut, bangun dini hari untuk sahur, lalu kembali tidur sebelum memulai aktivitas pagi.

Kondisi ini membuat sebagian orang khawatir. Tak sedikit yang bertanya, apakah pola tidur yang terputus seperti itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan disebut-sebut dapat memicu stroke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis saraf, Zicky Yombana mengatakan, tidur memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan otak. Meski tubuh beristirahat saat tidur, otak tetap aktif bekerja.

"Ketika tidur, tidak serta-merta semua organ benar-benar istirahat. Otak tetap bekerja mengatur berbagai fungsi, termasuk fase tidur dan mimpi," kata Zicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (11/3).

Pola tidur berubah saat Ramadan

Menurut Zicky, perubahan pola tidur selama Ramadan umumnya terjadi karena pergeseran waktu tidur dan bangun. Akibatnya, dua hal bisa ikut berubah, yakni durasi tidur dan kualitas tidur.

"Pada Ramadan biasanya ada pergeseran jam tidur. Otomatis waktu tidur berubah dan kedalaman atau kualitas tidurnya juga bisa sedikit berubah," ujarnya.

Meski demikian, kondisi ini umumnya masih tergolong normal dan tidak selalu berdampak buruk bagi kesehatan. Ia menyarankan masyarakat untuk tidak tidur terlalu larut setelah salat tarawih agar tetap mendapatkan waktu istirahat yang cukup sebelum bangun sahur.

"Kalau selesai tarawih sebaiknya langsung tidur, karena kita akan bangun lebih pagi untuk sahur," jelasnya.

Sebagian orang juga memiliki kebiasaan tidur kembali setelah sahur, meski hanya sebentar. Menurut Zicky, pola tidur yang terpecah seperti ini dikenal sebagai split sleep.

Pola tersebut memang bisa menimbulkan dampak ringan seperti rasa kantuk yang lebih mudah muncul di siang hari.

"Yang paling sering muncul adalah orang jadi lebih gampang mengantuk dan konsentrasinya bisa menurun," tambahnya.

Namun, ia menegaskan rasa kantuk tersebut bukan disebabkan oleh puasa, melainkan karena pola tidur yang terputus.

Kendati demikian, kebiasaan tersebut, lanjut dia, tidak menimbulkan masalah serius bagi otak selama kebutuhan energi tubuh tetap terpenuhi dari makanan saat sahur dan berbuka.

Apakah bisa memicu stroke?

ilustrasi strokeIlustrasi. Tak sedikit orang yang percaya bahwa pola tidur buruk selama bukan Ramadan bisa merusak otak hingga memicu stroke. (iStockphoto/Michail_Petrov-96)

Zicky menjelaskan, pola tidur yang buruk memang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan jika terjadi terus-menerus dalam jangka panjang. Beberapa di antaranya termasuk peningkatan tekanan darah, peradangan kronis, gangguan metabolisme seperti obesitas dan resistensi insulin, hingga peningkatan risiko pembekuan darah.

Namun, ia menegaskan bahwa pola tidur seperti saat Ramadan tidak otomatis memicu stroke, terutama jika seseorang menjalani puasa dengan baik.

"Kalau pola tidur seperti itu dilakukan saat berpuasa, tidak meningkatkan risiko stroke. Tapi kalau dilakukan terus-menerus di luar Ramadan dalam jangka panjang, itu bisa berpotensi," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa risiko stroke tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi juga gaya hidup secara keseluruhan seperti kebiasaan merokok, olahraga, dan pola makan.

Tips menjaga kualitas tidur saat puasa

Untuk menjaga kesehatan selama Ramadan, Zicky menyarankan masyarakat tetap memperhatikan kualitas dan durasi tidur. Orang dewasa membutuhkan sekitar 6-7 jam tidur setiap hari, yang bisa dibagi antara tidur malam dan tidur siang.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas tidur selama puasa antara lain:

- tidur lebih awal setelah tarawih,
- menghindari konsumsi kafein pada malam hari,
- memenuhi kebutuhan cairan dengan air putih saat sahur dan berbuka,
- melakukan olahraga ringan menjelang berbuka.

Menurut Zicky, tubuh manusia pada dasarnya memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan rutinitas selama Ramadan.

"Tubuh manusia bisa beradaptasi. Jadi selama kita mengatur pola hidup dengan baik, sebenarnya tidak ada masalah," tutupnya.

(anm/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |