Jakarta, CNN Indonesia --
Potensi hujan diprediksi bakal berkurang dalam beberapa waktu ke depan seiring musim kemarau mulai meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Tanda-tanda itu terlihat dengan menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan mengurangi tutupan awan pada pagi hingga siang hari, sehingga menyebabkan radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi secara maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, dalam sepekan mendatang kondisi serupa masih terjadi. Hal ini tercermin dari dominasi aliran angin timuran pada pola angin zonal di sebagian besar wilayah Indonesia. Pola ini mendukung masuknya massa udara dengan kandungan uap air yang relatif lebih rendah dari Australia ke Indonesia.
"Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa beberapa wilayah mulai berangsur memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sehingga potensi hujan juga berkurang," kata BMKG dalam keterangan di laman resminya, dikutip Jumat (8/5).
Kendati begitu, fenomena atmosfer tropis masih berpotensi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih berada pada fase 2 dan berpotensi berpropagasi ke timur menuju fase 3.
Fenomena ini diprediksi bergerak ke arah timur, melintasi Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Selain itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga diprediksi aktif di berbagai wilayah, mulai dari pesisir timur Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua.
"Keberadaan gangguan atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah terkait," jelas BMKG.
Siklon Tropis Hagupit juga diprediksi ikut memengaruhi cuaca di sebagian Indonesia. Dalam 48 jam ke depan, siklon ini diperkirakan menguat dan bergerak ke arah barat, membentuk pola angin yang memicu pertemuan massa udara di utara Papua Nugini.
Menghadapi dinamika cuaca saat ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk memakai tabir surya dan menjaga asupan cairan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari ketika cuaca terasa panas.
Di sisi lain, BMKG juga meminta masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari ke depan.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google

58 minutes ago
2

















































