Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar smartphone global saat ini sedang menghadapi tantangan berat. Berbagai laporan industri menunjukkan pertumbuhan yang sangat tipis bahkan cenderung menurun. Namun, di tengah kondisi yang sulit ini, ada satu merek asal China yang justru mencuri perhatian dengan pertumbuhan penjualan yang luar biasa yaitu Honor.
Menurut data terbaru dari firma riset Omdia, total pengapalan smartphone global pada kuartal I-2026 mencapai 298,5 juta unit, atau hanya tumbuh 1% secara tahunan. Angka ini jauh lebih optimistis dibanding laporan IDC dan Counterpoint yang mencatat penurunan masing-masing sebesar 4,1% dan 6%.
Kendala utama yang dihadapi industri antara lain adalah kelangkaan komponen memori DRAM dan NAND, serta tekanan ekonomi global yang membuat daya beli masyarakat melemah akibat inflasi yang berkepanjangan. Hal ini menciptakan kesenjangan antara stok yang dikirim ke pasar dengan penjualan riil ke konsumen.
Pertumbuhan pesat Honor
Berbeda dengan tren umum, Honor justru mencatatkan prestasi gemilang. Laporan Omdia menyebutkan merek ini berhasil mengapalkan 19,2 juta unit perangkat, menjadikannya vendor dengan pertumbuhan tercepat di jajaran 10 besar produsen dunia.
Keberhasilan ini didorong oleh ekspansi agresif di pasar internasional. Honor mencatat peningkatan pengiriman lebih dari dua kali lipat di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Namun, di pasar dalam negeri China sendiri, performanya justru mendapat tekanan akibat persaingan yang sangat ketat dengan merek-merek lokal lainnya.
Keberhasilan Honor saat ini tidak lepas dari perjalanan panjang dan keputusan strategis yang mengubah nasibnya. Berikut adalah kisah singkat bagaimana merek ini lahir dan berkembang:
Awal Mula (2013-2018)
Honor pertama kali diluncurkan pada tahun 2013 sebagai sub-brand atau anak perusahaan dari Huawei. Tujuannya saat itu adalah untuk menargetkan pasar anak muda dengan produk yang memiliki spesifikasi mumpuni tetapi harga lebih terjangkau, serta lebih banyak dijual melalui saluran online. Strategi ini serupa dengan yang dilakukan oleh Xiaomi dengan sub-brand Poco.
Honor mulai menembus pasar internasional mulai tahun 2014.
Pisah dari Huawei
Titik balik terjadi pada tahun 2019 ketika pemerintah Amerika Serikat memberlakukan sanksi dagang terhadap Huawei. Dampaknya, Honor juga terkena imbas dan tidak bisa lagi menggunakan layanan Google serta komponen teknologi asal AS.
Untuk menyelamatkan merek ini agar bisa terus beroperasi dan berkembang, Huawei mengambil keputusan besar. Pada 17 November 2020, Huawei resmi menjual seluruh kepemilikan Honor kepada konsorsium perusahaan China bernama Shenzhen Zhixin New Information Technology Co., Ltd..
Sejak saat itu, Honor menjadi perusahaan yang sepenuhnya independen dan tidak lagi memiliki hubungan bisnis dengan Huawei. Pemisahan ini terbukti sangat krusial karena membuat Honor bebas kembali bekerja sama dengan perusahaan teknologi global, termasuk menggunakan chipset Qualcomm dan layanan Google Mobile Services (GMS).
Oleh karena itu, HP merek Honor bisa menggunakan sistem operasi Android pada saat Huawei mengembangkan sistem operasi sendiri yang bernama Harmony.
Ekspansi global
Setelah lepas dari Huawei, Honor mulai bangkit kembali. Pada tahun 2021, mereka meluncurkan seri Honor 50 yang menjadi perangkat besar pertama mereka yang sudah mendukung layanan Google penuh. Sejak itu, ekspansi terus dilakukan ke berbagai negara di Eropa, Asia Pasifik, hingga Amerika Latin.
Meskipun pertumbuhan Honor sangat impresif, para analis tetap memperingatkan bahwa tantangan industri belum usai. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan berpotensi memicu koreksi pasar yang lebih dalam pada kuartal kedua hingga paruh kedua tahun 2026. Namun untuk saat ini, Honor tetap menjadi kisah sukses yang patut diperhitungkan.
Samsung masih memimpin
Laporan Omdia pada kuartal I-2026 menyebutkan Samsung mengirimkan 65,4 juta unit atau tumbuh 8% year-on-year. Pangsa pasar perusahaan mencapai 22%.
Apple berada di belakang Samsung dengan pangsa pasar 20% dan pertumbuhan 10% dari tahun sebelumnya. Pada kuartal awal tahun ini, perusahaan mengirimkan 60,4 juta unit.
Seri iPhone 17 masih menjadi alasan pertumbuhan utama. Ponsel murah iPhone 17e sangat kuat di Uni Eropa dan Jepang, serta iPhone 17 Pro dan Pro Max berhasil mengungguli pendahulunya.
Salah satu pasar terbesar Apple, China juga mencatatkan hasil yang positif. Pertumbuhannya mencapai 42% dari tahun sebelumnya.
Di posisi ketiga hingga kelima diisi raksasa teknologi asal China. Semua perusahaan mencatatkan pertumbuhan minus pada kuartal I.
Mulai dari Xiaomi di posisi ketiga yang mengirimkan 33,8 juta unit dan mengantongi 11% pasar. Pertumbuhan tahunan perusahaan -19%.
Sementara Oppo mengirimkan 30,7 juta unit serta pangsa pasar 10%, pertumbuhannya -6%. Terakhir ada Vivo dengan pengiriman 21,3 juta dan 7% pasar, sedangkan pertumbuhannya -7%.
(dem/dem)
Addsource on Google

57 minutes ago
2

















































