Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali terjadi. Militer Amerika Serikat (AS) menembaki sebuah kapal tanker minyak berbendera Iran yang mencoba menerobos blokade Washington terhadap pelabuhan Iran di tengah konflik yang terus memburuk di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan sebuah jet tempur Angkatan Laut AS jenis F/A-18 Super Hornet melumpuhkan kemudi kapal tanker M/T Hasna setelah awak kapal mengabaikan peringatan dari militer AS. "Hasna tidak lagi transit ke Iran," tulis CENTCOM dalam unggahan di media sosial X, Rabu (6/5/2026), seperti dikutip AFP.
Menurut CENTCOM, kapal tanker yang dilaporkan tidak membawa muatan itu dianggap melanggar blokade AS yang telah diberlakukan sejak 13 April lalu. Setelah beberapa kali peringatan diabaikan, jet tempur AS melepaskan tembakan menggunakan meriam 20 mm untuk melumpuhkan kapal.
"Blokade AS terhadap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari pelabuhan Iran tetap berlaku sepenuhnya," lanjut pernyataan tersebut.
Insiden ini menjadi kali kedua pasukan AS menggunakan kekuatan militer terhadap kapal yang dituding mencoba menerobos blokade tersebut. Sebelumnya, pada 19 April, kapal berbendera Iran lainnya, M/V Touska, juga ditembak oleh kapal perang AS setelah disebut mengabaikan sejumlah peringatan.
Saat itu, kapal perusak AS memerintahkan awak kapal untuk mengevakuasi ruang mesin sebelum akhirnya meriam lima inci ditembakkan ke arah kapal hingga membuatnya lumpuh. CENTCOM sebelumnya juga mengungkapkan lebih dari 50 kapal komersial telah diminta berbalik arah atau kembali ke pelabuhan guna mematuhi blokade tersebut.
"Lebih dari 50 kapal komersial telah diperintahkan untuk berbalik atau kembali ke pelabuhan," kata CENTCOM.
Laporan ini muncul setelah pernyataan Trump Selasa, bahwa ia kini menghentikan operasi militer untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz. Ini terjadi persis satu hari setelah dirinya resmi mengumumkan berlakunya "Project Freedom (Proyek Kebebasan)" yang diklaimnya, untuk membantu kapal meninggalkan Selat Hormuz, jalur sempit menuju minyak Teluk tempat Iran melakukan pemblokiran karena perang dengan AS dan Israel.
Pengumuman diberikan melalui akun media sosialnya Truth Social. Trump berdalih ia sekarang menghentikannya setelah permintaan dari mediator Pakistan dan negara-negara lain, seraya mengklaim "kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan akhir" dengan Teheran.Laporan juga muncul di tengah pemberitaan laman Axios, yang merujuk sejumlah pejabat Gedung Putih, bahwa Washington dan Teheran tengah membahas sebuah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), satu halaman, yang bertujuan mengakhiri perang. Memo ini sekaligus menjadi dasar bagi negosiasi lebih rinci terkait program nuklir Iran. Menurut dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui proses tersebut, tanggapan Iran atas sejumlah poin kunci diharapkan diterima dalam 48 jam ke depan. Meski belum ada kesepakatan final, sumber-sumber tersebut menyebut situasi ini sebagai titik terdekat menuju kesepakatan sejak konflik dimulai.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

10 hours ago
2

















































