Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah dibuka stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (13/3/2026). Seiring dengan fluktuasi pergerakan dolar AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp16.885/US$, sama seperti posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (12/3/2026), rupiah ditutup melemah 0,12% ke level tersebut.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,05% ke level 99,685. Meski demikian, pada perdagangan sebelumnya DXY sempat ditutup menguat 0,51% di posisi 99,739.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global, seiring ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, terutama terkait konflik di Timur Tengah.
Di pasar global, dolar AS masih bertahan kuat dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan untuk kedua kalinya sejak perang Iran memanas. Gejolak pasar membuat dolar AS kembali menjadi aset aman utama yang diburu investor.
Lonjakan harga minyak juga turut memperkuat sentimen hati-hati di pasar. Di saat yang sama, AS mengizinkan penjualan sebagian produk minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi terkait perang di Ukraina.
Sementara itu, Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, di tengah pernyataan pemimpin tertingginya yang menegaskan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Kondisi yang masih penuh ketidakpastian ini membuat dolar AS tetap diminati pelaku pasar. Akibatnya, ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.
(evw/evw)
Addsource on Google

12 hours ago
5
















































