Ilustrasi.(Magnific)
RAHM Emanuel, mantan Wali Kota Chicago sekaligus tokoh potensial dalam bursa calon presiden dari Partai Demokrat, dijadwalkan menyampaikan pidato krusial di Tel Aviv pada Rabu (8/7). Dalam draf pidatonya, Emanuel memberikan peringatan keras bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Israel berada di titik kritis dan tidak berkelanjutan kecuali jika pemerintah Israel segera mengubah arah kebijakannya secara drastis.
Berdasarkan draf pidato yang diperoleh The Washington Post, Emanuel berencana melontarkan kritik tajam kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ia memperingatkan bahwa di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel terancam menjadi negara paria. Selain itu, ia juga menyoroti korupsi di kepemimpinan Palestina dan mempertanyakan kebijakan dukungan tanpa syarat yang selama ini diberikan Amerika Serikat kepada Israel.
Hubungan di Persimpangan Jalan
Emanuel, yang memiliki latar belakang Yahudi dan ayah kelahiran Jerusalem, akan menyampaikan kepada audiens di Universitas Tel Aviv bahwa aliansi kedua negara tidak dapat bertahan seperti sekarang ini. Hal ini merujuk pada perlakuan keras Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
"Amerika Serikat tidak dapat terus mendanai dan mendukung sinisme itu dalam diam," demikian kutipan draf pidato Emanuel. Ia menekankan bahwa Israel tidak bisa terus berperang melawan dunia yang mulai meragukan hak mereka untuk bertempur dan harus segera menemukan jalan baru menuju perdamaian, keamanan, serta kemakmuran ekonomi.
Tiga Proposal Utama Emanuel:
- Hubungan diplomatik penuh antara Israel dan tetangga Arabnya, dengan tanggung jawab membentuk otoritas Palestina yang kredibel.
- Investasi ekonomi untuk memperdalam koneksi regional.
- Penghentian subsidi pembayar pajak Amerika terhadap anggaran pertahanan Israel.
Kritik Terhadap Netanyahu dan Visi Israel Raya
Emanuel secara spesifik mengkritik ambisi pembentukan Israel Raya yang mencakup aneksasi Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ia menyebut ambisi tersebut sama merusak diri sendiri dan fanatiknya dengan tuntutan Palestina yang membentang dari sungai hingga ke laut.
"Dengarkan saya sekarang: Israel akan sendirian jika para pemimpinnya memilih untuk mencoba mencaplok Tepi Barat dan mengejar fantasi Israel Raya," tegas Emanuel. Ia menyatakan bahwa Amerika tidak akan dan tidak bisa menjadi kaki tangan dalam upaya tersebut.
Hubungan Emanuel dan Netanyahu memang telah lama tegang. Saat menjabat sebagai Kepala Staf Gedung Putih di era Obama, Emanuel pernah menantang kebijakan permukiman Netanyahu yang kemudian memicu serangan verbal dari pihak Netanyahu terhadapnya.
Dinamika Internal Partai Demokrat
Langkah Emanuel itu mencerminkan gejolak besar di internal Partai Demokrat terkait isu Israel-Palestina. Pandangan negatif terhadap Israel meningkat tajam sejak invasi ke Gaza pascaserangan Hamas 7 Oktober 2023. Para pemimpin partai kini terjepit di antara pendukung tradisional Israel dan kelompok progresif yang mendesak penghentian kerja sama militer.
Emanuel menyatakan bahwa keputusannya untuk berbicara langsung di Israel merupakan bentuk kejujuran seorang teman. "Hal terpenting yang bisa dilakukan seorang teman sejati adalah mengatakan kebenaran meskipun itu menyakitkan," ujarnya. Ia juga mengisyaratkan bahwa perjalanan ini merupakan bagian dari strategi kampanye kepresidenan nontradisional yang mungkin ia ambil untuk tahun 2028. (I-2)


















































