Jakarta, CNN Indonesia --
China dilaporkan meminta perusahaan-perusahaan menangguhkan penandatanganan kontrak baru ekspor BBM, termasuk membatalkan pengiriman yang telah disepakati karena perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Permintaan tersebut tidak berlaku untuk pengisian bahan bakar jet untuk penerbangan internasional, pengisian bahan bakar kapal di gudang berikat, atau pasokan ke Hong Kong atau Makau, kata beberapa sumber industri dan perdagangan yang mengetahui masalah tersebut mengatakan pada Rabu (5/3), dikutip dari The Straits Times.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Penurunan ekspor dari China, salah satu eksportir bahan bakar terbesar di Asia, kemungkinan akan memperburuk situasi pasokan bahan bakar yang ketat di Asia, mendorong margin penyulingan semakin tinggi.
Karena sebagian besar program ekspor Maret telah ditetapkan dan sulit untuk menarik kembali kargo, komunikasi pemerintah yang baru diperkirakan akan mengurangi ekspor mulai April dan seterusnya, tambah sumber-sumber tersebut.
Untuk bulan Maret, ekspor bensin, solar, dan bahan bakar jet secara gabungan diperkirakan akan tetap stabil dibandingkan perkiraan industri sebelumnya sekitar 3,8 juta metrik ton, karena perusahaan-perusahaan memanfaatkan margin Asia yang kuat, menurut beberapa sumber.
Data pelacakan kapal LSEG menunjukkan sekitar 70.000 ton bahan bakar jet, 35.000 ton diesel, dan 35.000 ton bensin telah dikirim pada bulan ini.
China mengelola ekspor BBM melalui sistem kuota untuk menyeimbangkan fundamental penawaran-permintaan di pasar lokalnya, dengan penerbitan kuota pertama untuk tahun 2026 sedikit berubah dari tahun lalu pada 19 juta ton.
Tiga pembeli regional kargo asal Tiongkok mengatakan kepada Reuters pada 5 Maret bahwa mereka masih akan menerima pengiriman bulan ini sesuai dengan jadwal pemuatan sebelumnya.
Setidaknya dua kilang minyak Tiongkok, yakni Zhejiang Petrochemical Corp yang dikelola swasta dan kilang Fujian yang dioperasikan Sinopec, telah mulai mengurangi kapasitas produksi pada Maret ini.
Lebih banyak pabrik diperkirakan akan mengurangi produksi karena konflik Timur Tengah yang berkelanjutan mengganggu aliran minyak mentah, menyebabkan harga melonjak.
(fra)

13 hours ago
5

















































