Cuan Migas Rusia Diprediksi Naik Dua Kali Lipat Gegara Perang Iran

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai penjualan minyak dan gas (migas) Rusia diperkirakan melonjak dua kali lipat pada Maret ini. Pasalnya, perang Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel yang masih berlangsung memicu kenaikan harga minyak global dan permintaan minyak Rusia.

Mengutip TRT World, Institut Sekolah Ekonomi Kiev (KSE) memperkirakan penjualan minyak Rusia diproyeksi melesat dari sekitar US$12 miliar atau Rp203,6 triliun (asumsi kurs Rp16.970 per dolar AS) menjadi hampir US$24 miliar atau Rp407,2 triliun bulan ini. Artinya, Rusia meraup sekitar US$760 juta per hari atau setara Rp12,89 triliun per hari.

Bahkan, apabila konflik berakhir dalam beberapa pekan ke depan, pendapatan ekspor migas tahunan Rusia diproyeksi mencapai US$218,5 miliar atau Rp3.707,29 triliun. Angka tersebut setara dengan tambahan pendapatan tak terduga sebesar US$84 miliar atau Rp1.425,22 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Pendapatan diperkirakan) naik 63 persen dibandingkan skenario di mana pasokan energi Timur Tengah tetap tidak terganggu," tulis KSE.

Sementara itu, jika konflik berlanjut selama enam bulan lagi, pendapatan tahunan bisa melesat menjadi US$386,5 miliar atau Rp6.557,75 triliun. Angka tersebut hampir 188 persen di atas perkiraan pra-krisis, menurut proyeksi yang sama.

Dalam pertemuan di Kremlin mengenai isu-isu ekonomi pada Senin (23/3) lalu, Putin mengatakan perusahaan minyak dan gas harus menggunakan pendapatan tambahan dari harga hidrokarbon yang lebih tinggi untuk mengurangi utang mereka kepada bank-bank domestik.

"Perusahaan minyak dan gas Rusia harus mempertimbangkan penggunaan pendapatan tambahan dari kenaikan harga hidrokarbon global untuk mengurangi beban utang dan melunasi utang mereka kepada bank-bank domestik. Ini akan menjadi keputusan yang bijaksana," ujar Putin.

Laporan tersebut menyebutkan Rusia juga diuntungkan oleh penangguhan sanksi sementara AS yang mencakup beberapa muatan minyak yang telah dimuat ke kapal tanker, sehingga mengurangi risiko transaksi bagi pembeli.

Eskalasi konflik di Timur Tengah sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu menyebabkan harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel.

Mengutip Reuters, Jumat (27/3 lalu, harga minyak Brent tercatat US$107,11 per barel. Sementara, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) US$93,65 per barel.

Sebagai pembanding, pada 27 Februari, sehari sebelum serangan AS-Israel dimulai terhadap Iran, harga minyak mentah Brent dan WTI masing-masing berada di level US$72,48 dan US$67,02 per barel.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |