REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Cyber University melalui Program Studi (Prodi) Sistem dan Teknologi Informasi (STI) terus memperkuat kesiapan lulusannya untuk berkarier sebagai Cyber Security Analyst di era transformasi digital. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan tenaga ahli keamanan siber di berbagai sektor industri.
Ancaman siber yang semakin kompleks membuat profesi Cyber Security Analyst menjadi salah satu posisi yang banyak dibutuhkan perusahaan. Peran tersebut dinilai penting dalam menjaga keamanan sistem, jaringan, dan data dari berbagai risiko serangan digital.
Ketua Program Studi (Prodi) Sistem dan Teknologi Informasi Cyber University, Neneng Rachmalia Feta mengatakan kebutuhan tenaga profesional di bidang keamanan siber terus meningkat seiring percepatan digitalisasi. Menurut dia, dunia industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan praktik yang relevan.
“Keamanan siber saat ini menjadi kebutuhan utama di berbagai sektor. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan analisis keamanan sistem, pengelolaan risiko digital, serta pengalaman praktik agar mampu menghadapi tantangan industri secara langsung,” ujar Feta, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), mahasiswa Prodi STI Cyber University dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri digital. Pembelajaran difokuskan pada analisis keamanan sistem, pemahaman infrastruktur jaringan, hingga pengelolaan dan perlindungan data.
Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga dilatih memiliki kemampuan berpikir kritis dan problem solving. Hal ini dinilai penting untuk membantu mahasiswa menghadapi berbagai skenario ancaman siber secara sistematis dan tepat.
Cyber University juga menerapkan Company Learning Program (CLP) 3+1. Dimana magang sebagai bagian dari penguatan kurikulum berbasis industri. Program ini menggabungkan tiga tahun pembelajaran di kampus dengan satu tahun magang penuh di perusahaan mitra.
Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam proyek industri dan membangun portofolio profesional sejak dini. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan kerja lulusan ketika memasuki dunia industri.
Menurut Feta, integrasi antara teori dan praktik menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran keamanan siber. Mahasiswa didorong memahami kondisi nyata di dunia kerja agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ancaman digital.
“Kami ingin lulusan memiliki pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Dengan keterlibatan langsung dalam proyek dan lingkungan kerja profesional, mahasiswa dapat memahami tantangan keamanan digital secara lebih nyata,” kata dia.
Selain aspek akademik dan teknis, Cyber University juga menanamkan nilai etika dan profesionalisme kepada mahasiswa. Kesadaran terhadap pentingnya keamanan informasi dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang bertanggung jawab di dunia kerja.
Ia menjelaskan, lulusan Cyber Security Analyst memiliki peluang karier yang luas di berbagai sektor, seperti perusahaan teknologi, perbankan, fintech, instansi pemerintah, hingga perusahaan multinasional. Selain itu, lulusan juga dapat berkembang ke posisi lain seperti Network Security Engineer, IT Auditor, dan Security Consultant.
Dengan meningkatnya kebutuhan tenaga ahli keamanan siber, Cyber University menilai penguatan kompetensi digital menjadi langkah penting dalam mendukung keamanan ekosistem teknologi di masa depan. “Pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan kolaborasi industri diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi di era digital,” kata dia.

1 hour ago
2

















































