Khutbah Wukuf Arafah: Tri Sukses Haji, Jalan Menuju Haji Mabrur dan Kemaslahatan Bangsa

2 hours ago 5

Oleh: Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf

Khutbah Pertama

Jamaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah. Pada hari yang agung ini, kita berkumpul di Arafah. Kita hadir di tempat yang menjadi inti ibadah haji. Kita datang dengan pakaian ihram. Kita menanggalkan atribut-atribut dunia. Kita menundukan hati di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa manusia tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan-Nya. 

Di Padang Arafah ini, manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan. Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemegahan dunia. Kedudukan tidak membuat seseorang lebih tinggi. Harta tidak membuat seseorang lebih mulia. Jabatan tidak membuat seseorang lebih dekat kepada Allah.

Di tempat ini pula, seorang hamba menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat. Semua menunggu karunia Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Haji adalah Arafah.” Hadis ini mengingatkan kita bahwa wukuf bukan sekadar hadir secara jasmani, tapi sekaligus hadir dengan hati. 

Wukuf adalah mengakui kelemahan diri. Wukuf adalah kembali kepada Allah. Wukuf adalah saat seorang hamba berkata dalam diamnya: Ya Allah, aku datang kepada-Mu. Aku membawa dosa dan harapan. Aku membawa kelemahan dan kerinduan. Aku memohon ampunan-Mu. Aku memohon ridha-Mu. Jamaah haji yang dirahmati Allah. Hari Arafah adalah hari di mana doa dipanjatkan dan ampunan diharapakan. Hari Arafah adalah hari ketika Allah memberikan kemurahan kepada hambahamba-Nya yang datang dengan debu perjalanan, lelah badan, dan air mata kerinduan. 

Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR Tirmidzi). Oleh karena itu jangan biarkan waktu ini berlalu tanpa istighfar. Jangan biarkan Arafah berlalu tanpa munajat. Jangan biarkan detik-detik mulia ini hilang tanpa doa untuk diri, keluarga, orang tua, guru, para petugas, para pemimpin, semua jamaah haji, umat Islam, dan bangsa Indonesia. Mari kita panjatkan doa terbaik untuk semuanya. Di tempat ini, mari kita tundukkan hati, kita jernihkan niat, kita bersihkan lisan dari keluhan yang tidak perlu dan berpotensi melukai hati orang lain. Mari kita lapangkan dada dan kita mohon kepada Allah agar haji ini menjadi haji yang mabrur. Rasulullah SAW bersabda, "Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga."(HR Bukhari Muslim).

Haji mabrur bukan hanya selesai manasik. Haji mabrur adalah perubahan hidup yang akan menampakkan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah yang lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak, serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan. Jamaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah. Arafah mengajarkan tauhid. Talbiyah yang kita ucapkan sejak ihram mengajarkan bahwa hidup kita harus kembali kepada Allah.  “Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.”

Kalimat ini sederhana. Namun maknanya sangat dalam bagi seorang hamba yang bertalbiyah sebab dengan kalimat ini dia sedang menyerahkan dirinya kepada Allah. Ia menyatakan kesiapan untuk taat. Ia menyatakan kesediaan untuk dibimbing. Ia menyatakan kesadaran bahwa seluruh pujian, nikmat, dan kekuasaan hanya milik Allah. Inilah sesungguhnya ruh haji itu. Inilah inti ibadah yang agung ini. Haji bukan perjalanan wisata, bukan perjalanan status, bukan perjalanan untuk mencari sebutan. Haji adalah perjalanan Kembali, kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah, kembali kepada hidup yang bersih. 

Allah SWT berfirman:“Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal sehat.” (QS Al-Baqarah: 197). Oleh-oleh terbaik dari haji bukanlah barang, souvenir, dan status yang kita bawa pulang. Oleh-oleh terbaik dari haji adalah takwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat kepada Allah, kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat. Jamaah haji yang dirahmati Allah. Di Arafah ini, kita juga belajar persaudaraan. Jutaan manusia dari berbagai negara berkumpul dalam satu pakaian, satu arah, satu zikir, dan satu harapan. Mereka berbeda bahasa, berbeda warna kulit, dan berbeda latar belakang. Namun mereka disatukan oleh tauhid. 

Allah SWT berfirman:“Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13). 

Ayat ini sangat dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa kita terdiri dari banyak suku, bahasa, budaya, dan agama. Kita hidup dalam rumah besar bernama Indonesia. Karena itu, haji harus menguatkan rasa persaudaraan. Haji harus melatih kita untuk tidak mudah merendahkan dan menganggap orang lain tidak penting. Haji harus membuat kita lebih mampu mendengar, memahami, menolong, dan menjaga sesama.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |