Kelakuan Bani Israil Menyalahkan Tuhan Saat Hidup Sempit

4 hours ago 4

Ilustrasi tadabur ayat tentang Bani Israil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam Alquran, Allah menghadirkan satu pelajaran besar tentang bagaimana manusia bisa terjatuh pada prasangka buruk kepada Tuhan ketika hidup terasa sempit dan harapan duniawi tidak terpenuhi. Ayat itu berbunyi:

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟ ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ

Wa qālatil-yahūdu yadullāhi maghlūlah, ghullat aidīhim wa lu‘inū bimā qālū, bal yadāhu mabsūṭatāni yunfiqu kaifa yasyā’.

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat disebabkan ucapan itu. Tidak demikian, tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi sebagaimana Dia kehendaki.” (QS al Maidah ayat 64)

Menurut Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, ucapan

يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ

bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan ungkapan dalam bahasa Arab yang berarti Allah dianggap menahan pemberian-Nya atau “pelit”.

Dalam riwayat yang disebut Ibnu Katsir, ucapan itu keluar dari seorang Yahudi bernama Finhas ketika mereka mengalami kesempitan ekonomi dan merasa kehilangan kejayaan.

Mereka mengukur kasih sayang Allah hanya dari kelapangan materi. Ketika hidup terasa sulit, mereka justru menyalahkan Tuhan.

Karena itu Allah membalas ucapan tersebut dengan firman:

غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا۟ بِمَا قَالُوا۟

Ghullat aidīhim wa lu‘inū bimā qālū.

“Justru tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat karena ucapan itu.”

Para mufassir menjelaskan bahwa yang sebenarnya sempit bukan rahmat Allah, tetapi hati mereka sendiri.

Mereka terhalang dari keberkahan karena kesombongan, kedengkian, dan buruk sangka kepada Tuhan.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |