Darurat Energi, Italia Bersiap Kembali ke Batu Bara

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Italia membuka opsi darurat untuk mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) jika harga gas alam melonjak tajam. Langkah ini disiapkan sebagai bantalan terakhir guna menjaga stabilitas pasokan listrik di tengah tekanan pasar energi global.

Menteri Lingkungan dan Keamanan Energi Italia, Gilberto Pichetto Fratin, mengatakan ambang kewaspadaan berada di kisaran 70 euro per megawatt jam (MWh). “Jika harga gas melebihi 70 euro per MWh, mungkin perlu untuk mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara,” ujarnya kepada wartawan di sela pertemuan energi di Milan, Senin.

Ia menegaskan, opsi tersebut murni bersifat kontinjensi. Saat ini, harga gas masih berada di sekitar 40 euro per MWh, namun volatilitas pasar dinilai tetap tinggi. “Kita berbicara tentang skenario darurat, bukan bisnis seperti biasa. Batu bara tetap menjadi solusi terakhir, tetapi kita harus siap jika diperlukan,” kata Pichetto.

Italia saat ini memiliki empat PLTU dalam kondisi siaga. Pemerintah sebelumnya telah merencanakan penutupan bertahap fasilitas berbasis batu bara seiring komitmen transisi energi. Namun, dinamika geopolitik dan gangguan pasokan memaksa Roma meninjau ulang jadwal tersebut.

Bulan lalu, pemerintah Italia memutuskan menunda penutupan permanen PLTU hingga 2038. Kebijakan ini diambil setelah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk dampak perang Iran, yang memicu ketidakpastian pasokan dan lonjakan harga energi di pasar internasional.

Tekanan pada pasar gas Eropa memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak gangguan pasokan dan fluktuasi permintaan pascapandemi. Negara-negara Eropa kini menghadapi dilema antara menjaga keamanan energi jangka pendek dan mempertahankan komitmen terhadap dekarbonisasi.

Langkah Italia mencerminkan pendekatan pragmatis yang mulai terlihat di sejumlah negara Eropa: memastikan pasokan tetap aman meski harus sementara kembali pada sumber energi fosil. Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi memicu perdebatan baru terkait arah transisi energi di kawasan tersebut.

Di tengah ketidakpastian global, pemerintah Italia menegaskan bahwa kebijakan energi akan tetap fleksibel. Prioritas utama, kata Pichetto, adalah menjaga agar rumah tangga dan industri tidak terganggu oleh lonjakan harga maupun risiko kekurangan pasokan listrik.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |