REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong mahasiswa berkiprah di tingkat internasional.
Melalui Global Youth Congress (GYC) 2026 yang akan berlangsung di Bangkok, Thailand, Kamis sampai Sabtu, 2-4 Juli 2026 mendatang, UBSI mengirimkan tiga delegasi. Mereka Cicih Nuareni, dosen Prodi Sastra Inggris, serta dua mahasiswa, yakni Bella Amelia dari Prodi Sistem Informasi dan Kayla Shabirah Putri dari Prodi Ilmu Komunikasi.
GYC merupakan bagian dari Global Youth Conference on Sustainable Development Goals, forum internasional yang mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk membangun kolaborasi dan memperkuat peran generasi muda dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagi para peserta, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang belajar mengenai isu-isu global, juga kesempatan membangun jejaring internasional yang dapat membuka peluang kolaborasi di masa depan.
Kayla mengatakan, salah satu alasan terbesarnya antusias mengikuti program tersebut adalah kesempatan bertemu dan berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara. Ia melihat, GYC sebagai ruang yang sangat berharga untuk membangun jejaring internasional.
Di sana nanti kami bertemu mahasiswa, aktivis, inovator muda, dan calon pemimpin dari berbagai latar belakang. Kesempatan seperti ini tidak datang setiap hari sehingga saya ingin memanfaatkannya sebaik mungkin untuk belajar dan menjalin koneksi yang positif,” ujar Kayla dalam keterangan yang dikutip Senin (15/6/2026).
Menurutnya, jejaring global menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda menghadapi tantangan dunia yang semakin terhubung dan dinamis. Saat ini banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja.
‘’Karena itu, generasi muda perlu memiliki perspektif global dan kemampuan berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai budaya. Saya berharap, selama kegiatan dapat bertukar ide, pengalaman, dan sudut pandang dengan peserta internasional.’’
Melalui agenda seperti Youth Conference, Project Collaboration, hingga Volunteering Exchange, peserta memiliki banyak kesempatan berinteraksi secara langsung dengan delegasi dari berbagai negara. Kayla menilai pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya.
“Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya sangat tertarik mempelajari bagaimana komunikasi dilakukan dalam lingkungan yang multicultural,’’ ungkapnya.
Kalya ingin belajar bagaimana membangun hubungan yang baik dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, sekaligus memperkenalkan budaya dan semangat anak muda Indonesia kepada dunia.
Lebih lanjut, ia berharap keikutsertaannya dalam GYC membuka peluang kolaborasi yang berkelanjutan setelah program berakhir. Relasi yang terjalin, tidak berhenti setelah acara selesai. Siapa tahu, ke depan bisa berkolaborasi dalam proyek sosial, kampanye SDGs, penelitian, atau program kepemudaan lainnya.
‘’Jejaring global bukan hanya tentang mengenal banyak orang, tetapi tentang menciptakan peluang untuk tumbuh dan memberikan dampak bersama,” tuturnya.
Ia juga mengaku ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawa nama baik UBSI dan menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing serta berkontribusi dalam forum internasional.
Di sisi lain, ia ingin membuktikan mahasiswa Indonesia memiliki ide, kreativitas, dan semangat yang tidak kalah dengan peserta dari negara lain.
‘’Saya berharap dapat menjadi representasi yang baik bagi UBSI sebagai salah satu kampus swasta berkualitas, sekaligus membawa pulang pengalaman, pengetahuan, dan jaringan yang bermanfaat untuk pengembangan diri maupun lingkungan kampus,” kata Kayla.

13 hours ago
7

















































