Di Balik Angka Pertumbuhan Bank Syariah, Ada Cerita yang Jarang Dibahas

4 hours ago 7

Image Niswatun Nangimah

Ekonomi Syariah | 2026-07-03 20:24:51

https://unsplash.com/id/s/foto/syariah-finance

Semua orang bicara soal pertumbuhan aset bank syariah yang tembus Rp1.061,61 triliun, naik 10,49% secara tahunan per Maret 2026. Tapi ada satu angka yang menurut saya justru lebih menarik dan jarang jadi headline: rasio NPF (Non-Performing Financing) gross cuma 2,28%, dengan NPF net di angka 0,87%.

Kenapa ini penting? Karena di dunia perbankan, tumbuh cepat itu gampang. Tumbuh cepat sambil menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat, itu baru susah.

Kredibilitas di Balik AngkaBandingkan dengan pola umum industri keuangan, biasanya makin agresif bank menyalurkan pembiayaan, makin besar juga risiko kreditnya menumpuk jadi macet. Tapi data OJK menunjukkan Financing to Deposit Ratio (FDR) perbankan syariah justru terus naik ke level 87,65% tanda intermediasi yang makin efektif tanpa NPF yang meledak. Bahkan di level bank, BSI mencatat penyaluran pembiayaan produktif ke segmen UMKM tumbuh 13,67% jadi Rp25,69 triliun hingga April 2026, dengan kualitas pembiayaan yang justru membaik, bukan memburuk.

Ini bukan kebetulan. Ini sinyal bahwa sistem manajemen risiko dan seleksi debitur di balik layar bank syariah sudah mulai matang bukan cuma soal aplikasi digital yang kelihatan di permukaan.

Meski begitu, ada catatan yang perlu diwaspadai. Beberapa laporan industri memperingatkan bahwa tren kenaikan rasio NPF mulai terlihat di sejumlah segmen dalam beberapa bulan terakhir meski secara umum masih jauh di bawah ambang batas sehat. Riset akademik terbaru juga menemukan bahwa pada level BPR Syariah, rata-rata NPF justru bisa mencapai 8%, dengan kasus ekstrem sampai 45,3% pembiayaan bermasalah. Artinya, kesehatan di level bank umum syariah besar tidak otomatis mencerminkan kesehatan seluruh ekosistem syariah, terutama di segmen mikro dan daerah.

Data-data ini menyampaikan pesan yang jauh lebih penting daripada sekadar “bank syariah lagi untung besar”. Pesannya adalah pertumbuhan yang berkualitas itu terlihat dari kesehatan pembiayaan, bukan cuma besar-kecilnya aset. NPF rendah di tengah pertumbuhan pembiayaan dua digit adalah bukti nyata bahwa sistem operasional dari seleksi nasabah, pengawasan pembiayaan, sampai manajemen Risiko benar-benar bekerja, bukan sekadar formalitas kepatuhan.

Tapi kesenjangan antara bank umum syariah besar dan BPR Syariah kecil mengingatkan kita: keberhasilan di pusat belum tentu merata sampai ke akar rumput. Kalau industri syariah ingin pertumbuhan ini berkelanjutan, penguatan tata kelola risiko harus menjangkau seluruh lapisan, bukan cuma pemain-pemain besar yang sudah mapan.

Data bersumber dari siaran pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laporan kinerja BSI, dan riset Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, per Mei-Juni 2026.

Niswatun Nangimah, Mahasiswi Perbankan Syariah, Universitas KH. Mukhtar Syafaat

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |