Di Universitas Jayabaya, Deddy Mizwar Soroti Kekuatan Budaya dan Film

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Aktor senior sekaligus budayawan, Deddy Mizwar menilai film bukan sekadar hiburan, melainkan alat diplomasi budaya yang sangat kuat untuk membangun citra bangsa di mata dunia internasional.

Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jayabaya yang mengangkat tema "Pengelolaan Negara Dalam Perspektif Kebudayaan".

Deddy menilai Indonesia memiliki kekuatan budaya yang luar biasa, namun belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai strategi diplomasi internasional dan penguatan ekonomi nasional.

“Kalau bicara identitas budaya Indonesia, ya keberagaman itu sendiri. Setiap 60 kilometer kita menemukan bahasa, adat, dan nilai kehidupan yang berbeda. Itu kekayaan yang tidak dimiliki negara lain,” ujar Deddy.

Menurutnya, banyak negara telah lama menggunakan industri film sebagai sarana penyebaran budaya sekaligus memperkuat ekonomi nasional. Ia mencontohkan Amerika Serikat melalui Hollywood dan Korea Selatan lewat drama serta musik populer yang berhasil membangun pengaruh budaya hingga ke seluruh dunia.

“Dulu kita pakai jeans karena lihat film cowboy Amerika. Sekarang Korea melakukan hal yang sama lewat drama dan musiknya. Dari skincare, gaya hidup, sampai produk elektronik mereka masuk melalui budaya populer,” katanya.

Deddy menyebut film memiliki daya penetrasi yang sangat kuat karena mampu memengaruhi emosi dan pola pikir penonton dalam jangka panjang.

“Kadang film 20 tahun lalu dialognya masih kita ingat. Tapi pelajaran kuliah baru lulus sudah lupa. Artinya film itu punya kekuatan luar biasa,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia seharusnya mampu menjadi kekuatan budaya dunia karena memiliki ribuan cerita, tradisi, dan karakter lokal yang belum tergarap optimal.

“Kita tidak akan pernah kehabisan tema. Negara lain sekarang banyak me-remake film lama. Indonesia justru punya sumber cerita yang tidak ada habisnya,” kata Deddy.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya industri kebudayaan sebagai peluang ekonomi yang inklusif. Menurutnya, sektor budaya tidak selalu menuntut ijazah tinggi, tetapi lebih menekankan kreativitas dan karya.

“Industri kebudayaan itu besar sekali. Dan di situ jarang ditanya ijazah kamu apa. Yang dilihat karya dan kreativitasnya,” tuturnya.

Deddy juga mengungkapkan pengalamannya saat pernah ditawari pihak Cina untuk bermain dalam film tentang Konferensi Asia-Afrika. Namun tawaran itu ditolaknya karena tidak sepakat dengan narasi sejarah yang dibangun dalam film tersebut.

“Mereka ingin menunjukkan betapa pentingnya Cina dalam Konferensi Asia-Afrika. Semua syuting dibuat di Cina dengan anggaran tidak terbatas. Dari situ saya melihat bagaimana film dipakai untuk membangun persepsi bangsa di mata dunia,” katanya.

Ia berharap pemerintah lebih serius memanfaatkan diplomasi budaya melalui industri film dan media digital sebagai bagian dari strategi besar menjadikan Indonesia kekuatan dunia pada 2045.

“Film itu ibarat sihir. Bisa membuat orang tertawa, menangis, bahkan perlahan mengagumi sebuah bangsa dan mengikuti gaya hidupnya,” ujar Deddy Mizwar.

Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putra Jaya menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam membangun masa depan bangsa.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kesadaran budaya, dan tanggung jawab kebangsaan.

“Pendidikan tanpa akar budaya akan kehilangan arah. Kampus harus menjadi ruang lahirnya generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi tetap memahami identitas bangsanya sendiri,” ujar Moestar Putra Jaya.

Ia menambahkan bahwa kekayaan budaya Indonesia harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan agar generasi muda tidak tercerabut dari nilai-nilai kebangsaan di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |