ilustrasi(Magnific)
HUBUNGAN antara pola makan dan risiko kanker kerap memicu rasa penasaran sekaligus keraguan. Banyak orang mempertanyakan apakah makanan sehari-hari dapat mengubah peluang terkena kanker, terutama jika seseorang memiliki faktor genetik yang tidak menguntungkan. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal NPJ Breast Cancer mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Penelitian ini menganalisis data dari 93.271 perempuan yang terdaftar dalam proyek kesehatan UK Biobank. Para peneliti memantau para peserta selama rata-rata 12 tahun untuk mengamati perkembangan kasus kanker payudara.
Tingkat konsumsi dinilai menggunakan Flavodiet Score (FDS), yang mengukur asupan makanan dan minuman kaya flavonoid. Asupan ini mencakup 10 bahan, teh, apel, beri, anggur, jeruk, grapefruit, paprika manis, bawang bombai, cokelat hitam, dan anggur merah. Flavonoid sendiri merupakan senyawa alami yang ditemukan pada berbagai tanaman dan dikenal memiliki potensi efek perlindungan.
Temuan Utama Penelitian
Hasil studi menunjukkan perempuan dengan tingkat konsumsi flavonoid tertinggi (Flavodiet Score kuintil teratas) memiliki risiko kanker payudara 15% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berada di kuintil terendah.
Asupan subunit flavonoid tertentu, seperti flavanone dan proanthocyanidin, serta makanan spesifik seperti jeruk dan apel, terbukti berkaitan dengan penurunan risiko tersebut. Pola perlindungan ini konsisten terjadi baik pada perempuan sebelum maupun sesudah menopause.
Temuan menarik lainnya berkaitan dengan faktor genetik. Perempuan dengan skor risiko poligenik tinggi yang mengonsumsi flavonoid dalam jumlah terbanyak tetap menunjukkan penurunan risiko yang signifikan. Hal ini mengindikasikan diet kaya flavonoid tetap memberikan dampak positif, bahkan bagi mereka yang secara genetik lebih rentan.
Batasan Studi dan Catatan Penting
Meski menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga hanya dapat menunjukkan pola keterkaitan dan bukan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Beberapa batasan penelitian meliputi:
- Metode Pengukuran: Konsumsi makanan dinilai melalui kuesioner ingatan 24 jam yang rentan terhadap kesalahan pelaporan.
- Estimasi Nutrisi: Asupan flavonoid diperkirakan melalui basis data USDA, bukan diukur secara langsung pada tubuh peserta.
- Karakteristik Sampel: Mayoritas partisipan UK Biobank merupakan ras kulit putih Eropa dengan gaya hidup yang cenderung lebih sehat dibanding populasi umum, sehingga temuan ini belum tentu dapat digeneralisasi ke kelompok lain.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Pesan praktis dari penelitian ini cukup sederhana: menambah porsi makanan kaya flavonoid merupakan kebiasaan berisiko rendah yang kaya manfaat. Anda dapat memperbanyak konsumsi jeruk, apel, beri, teh, cokelat hitam, bawang bombai, dan paprika manis.
Terkait anggur merah (red wine) yang termasuk dalam penilaian FDS, peneliti menemukan bahwa menghapus item tersebut dari analisis tidak mengubah hasil akhir. Artinya, manfaat utama murni berasal dari flavonoid, bukan alkohol.
Meskipun efek penurunannya tergolong moderat dan tidak bisa menggantikan perawatan medis standar atau deteksi dini, kebiasaan mengonsumsi buah, sayur, dan teh tetap menjadi langkah pendukung yang baik untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh. (Eating Well/Z-2)
















































