Ditantang Iran Tempur Terus, Israel Malah Singgung Tenggat Perang

8 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Israel menunjukkan tanda-tanda tenggat (deadline) perang di tengah tantangan Iran untuk terus saling bertempur.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyampaikan komentar itu saat konferensi pers bersama Menlu Jerman Johann Wadephul setelah melakukan pertemuan bilateral, Selasa (10/3).

Saar mengatakan pemerintah Israel enggan berperang tanpa akhir dengan Iran. Pembahasan tersebut, kata dia, akan dibahas dengan Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami akan melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti," kata Saar kepada awak media, dikutip English Al Arabiya.

Dia lalu berujar, "Kami tak menginginkan perang tanpa akhir."

Saar lalu membahas Pemimpin Tertinggi Iran yang baru terpilih Mojtaba Khamenei. Di mata dia, anak mendiang Ali Khamenei itu sosok yang ekstremis.

Dia juga menyinggung arti kemenangan bagi Israel di tengah perang saat ini. Menurut dia, pemerintah berusaha keras menghilangkan ancaman dari Iran terhadap eksistensi negara Zionis ini.

"Kami ingin menghilangkan, untuk jangka panjang, ancaman eksistensial dari Iran terhadap Israel," ungkap dia.

Lebih lanjut, Saar menegaskan Israel ingin menghapus kekuasaan ulama Iran dengan menghancurkan program nuklir dan rudal balistik. Kondisi ini, lanjut dia, bisa menciptakan kondisi warga Iran menggulingkan penguasa mereka.

Namun, Saar mengatakan kondisi tersebut tak akan terjadi selama perang dan menduga kemungkinan terwujud justru setelah perang.

"Kita tak boleh melewatkan kesempatan ini dengan hasil yang setengah," kata dia.

Komentar Saar muncul usai Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan kekhawatiran mendalam di Eropa mengenai perang dan kemungkinan berlangsung lama.

Setelah bertemu Saar, Menlu Jerman meyakini Israel dan AS punya solusi diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Perang di Timur Tengah bermula usai Amerika Serikat dan Israel menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari. Serangan ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas.

Iran lalu meluncurkan serangan balasan ke Israel dan aset militer AS di Timur Tengah hingga menutup Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan PBS News pada Senin (9/3), Menlu Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan pengalaman pahit Iran dikhianati dua kali oleh AS sudah cukup untuk menyetop pembicaraan dengan Washington.

"Anda tahu, kami memiliki pengalaman amat pahit dalam berbicara dengan Amerika," kata Araghchi, seperti dikutip Anadolu Agency.

"Jadi saya rasa berbicara dengan orang Amerika lagi tidak akan ada dalam agenda kami," pungkasnya.

(isa/bac)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |