Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu Deteksi Dini Gagal Jantung

7 hours ago 6
Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu Deteksi Dini Gagal Jantung Ilustrasi deteksi gagal jantung(Magnific)

SEORANG dokter spesialis jantung mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang berpotensi membantu mendeteksi risiko perburukan pada pasien gagal jantung sejak dini. Teknologi bernama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF) ini diharapkan dapat menjadi alat bantu bagi tenaga medis dalam menentukan langkah penanganan pasien sebelum mereka dipulangkan dari rumah sakit.

NAVI-HF dikembangkan oleh Dr. dr. Rony M. Santoso, Sp.JP, Subsp. K.I.(K), FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Primaya Hospital Tangerang.

Pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari penelitian doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Berbeda dengan stetoskop konvensional yang mengandalkan kemampuan pendengaran dokter, NAVI-HF memanfaatkan algoritma AI untuk menganalisis suara paru-paru pasien.

Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi tanda-tanda penumpukan cairan atau kongesti paru, kondisi yang sering kali sulit dikenali melalui pemeriksaan fisik biasa.
Kongesti paru merupakan salah satu penyebab utama pasien gagal jantung harus menjalani perawatan ulang setelah dipulangkan dari rumah sakit.

 Kondisi tersebut kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga berisiko terlambat terdeteksi. Melalui bantuan AI, tenaga medis diharapkan dapat lebih cepat mengidentifikasi pasien risiko tinggi mengalami perburukan.

Cara kerja NAVI-HF terbilang sederhana. Alat ini merekam suara dada pasien dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit.

Rekaman tersebut kemudian diproses menggunakan algoritma AI yang mampu mengenali pola suara tertentu sebagai indikator adanya kongesti paru. Hasil analisis menjadi informasi tambahan bagi dokter untuk menentukan kondisi pasien. Dalam penelitian yang melibatkan 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Teknologi ini memiliki tingkat akurasi sekitar 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen daripada pemeriksaan lung ultrasound. Penelitian lanjutan selama enam bulan ini menunjukkan pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko sekitar 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung daripada pasien dengan hasil negatif.

Meski demikian, ia mengatakan pengembang menegaskan bahwa NAVI-HF tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter dalam menegakkan diagnosis. Teknologi ini berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses identifikasi pasien berisiko tinggi. Ke depan, NAVI-HF berpotensi mendukung layanan telemedicine serta pemantauan pasien dari rumah (home-based monitoring) untuk dapat meningkatkan kualitas penanganan gagal jantung di Indonesia. (Ant/H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |