Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara terkait mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri, seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan dengan depresiasi 0,06% ke posisi Rp17.500/US$ pada pagi ini. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah juga terkoreksi tajam 0,49% ke level Rp17.490/US$. Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini masih melakukan pembahasan intensif mengenai kebijakan harga BBM. Diskusi tersebut melibatkan sejumlah kementerian, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Itu, kebetulan Pak Menteri sama jajaran Menteri-Menteri sedang merapatkan hal tersebut ya (imbas dolar Rp17.500). Jadi kita tunggu saja," ujar Laode ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Adapun, saat disinggung apakah pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat, Laode belum memberikan kepastian. Yang pasti, pemerintah masih mencermati perkembangan sebelum mengambil keputusan. "Itu masih, kan belum ada info-info lain lagi kan selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," kata Laode.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) buka suara perihal pelemahan nilai tukar rupiah. Adapun, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menuturkan konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.
"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry kepada media, Selasa (12/5/2026).
Untuk itu, Destry menegaskan BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah.
Sejalan dengan upaya ini, Destry mengatakan bank sentral melihat perbaikan kepercayaan investor asing sehingga arus modal asing mulai kembali ke pasar uang dalam negeri.
"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61.6 triliun," katanya.
Menurut Destry, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik BI juga cukup tinggi dengan pertumbuhan DPK valas di akhir Maret mencapai 10,9% year to date (ytd). Oleh karena itu, BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































