Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 May 2026 09:42
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (7/5/2026). Penguatan terjadi seiring melemahnya dolar AS di pasar global, setelah investor mulai lebih optimistis terhadap peluang berakhirnya perang AS-Iran.
Merujuk Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, 7 mata uang menguat dan 3 lainnya melemah terhadap dolar AS.
Rupiah turut berada di zona hijau pagi ini. Mata uang Garuda berada di level Rp17.350/US$ atau menguat 0,17%.
Namun, penguatan terbesar dicatatkan ringgit Malaysia yang berada di level MYR 3,90/US$ setelah berhasil menguat 0,31%. Yen Jepang juga menguat ke posisi JPY 156,25/US$ atau naik 0,09%, sama seperti yuan China yang berada di CNY 6,805/US$.
Dolar Taiwan dan dolar Singapura turut menguat masing-masing 0,06%, dengan posisi terakhir di TWD 31,359/US$ dan SGD 1,267/US$. Dong Vietnam juga naik tipis 0,04% ke VND 26.309/US$.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang dengan tekanan terdalam pagi ini.
Baht berada di level THB 32,28/US$ setelah melemah 0,50%. Won Korea juga terkoreksi 0,30% ke KRW 1.449,3/US$, sementara peso Filipina berada di PHP 60,756/US$ atau terdepresiasi 0,16%.
Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi oleh arah dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) per pukul 09.15 WIB terpantau melemah 0,09% ke level 97,935.
Pelemahan dolar AS terjadi karena pasar mulai melihat peluang meredanya ketegangan AS-Iran.
Investor semakin optimistis setelah muncul kabar bahwa Washington dan Teheran semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Sumber dari mediator Pakistan yang mengetahui proses negosiasi menyebut kedua negara tengah mendekati kesepakatan berupa memorandum satu halaman untuk mengakhiri perang. Sentimen ini membuat pelaku pasar kembali berani masuk ke aset berisiko, sehingga permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman mulai berkurang.
Michael Brown, senior research strategist Pepperstone di London, menilai sentimen pasar yang lebih positif benar-benar menekan dolar AS. Menurutnya, investor mulai membeli optimisme terkait potensi kesepakatan AS-Iran, meski proses menuju deeskalasi masih bisa berlangsung panjang.
Melemahnya dolar AS menjadi angin segar bagi mata uang Asia. Ketika DXY melemah, tekanan terhadap mata uang negara lain cenderung berkurang. Namun, ruang penguatan masih bisa terbatas karena pelaku pasar tetap menunggu kepastian lebih lanjut terkait arah kesepakatan AS-Iran.
Dengan sentimen tersebut, mata uang Asia berpotensi bergerak lebih positif dalam jangka pendek. Namun, jika kabar damai kembali menemui hambatan, dolar AS masih bisa berbalik menguat karena statusnya sebagai aset aman.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

8 hours ago
1

















































