Jakarta, CNBC Indonesia - Harita Nickel berkomitmen mendukung rencana Pemerintah dalam memperkuat sektor kelautan melalui pembangunan desa-desa nelayan secara terintegrasi.
Seperti diketahui, pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan pada 2026 sebagai bagian dari target 5.000 desa nelayan hingga 2029, yang akan dilengkapi fasilitas seperti pabrik es, cold storage, dermaga, dan kapal dengan pengelolaan berbasis koperasi.
Dalam mendukung upaya tersebut, Harita Nickel memiliki inisiatif tanggung jawab sosial yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat pesisir di sekitar area tambang Pulau Obi, Maluku Utara, yang disebut Kelompok Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN).
Melalui program ini, Harita mendukung nelayan melalui fasilitas pengolahan ikan dan penyimpanan dingin atau cold storage, sehingga hasil tangkapan nelayan dapat disimpan dalam kondisi segar sebelum dipasarkan dan memiliki nilai jual yang lebih baik.
Selain itu, SUTAN juga menghadirkan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan dan pusat aktivitas nelayan, program SUTAN turut mendukung penguatan rantai distribusi perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Community Development Manager Harita Nickel, Broto Suwarso mengatakan sepanjang 2024, kelompok nelayan SUTAN di Soligi menyalurkan total lebih dari 24 ton ikan ke kantin-kantin karyawan Harita Nickel.
"Skema ini memperkuat rantai pasok kebutuhan pangan karyawan sekaligus membuka akses pasar yang lebih terstruktur bagi nelayan. Program ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan dan memperkuat kapasitas ekonomi kelompok nelayan. Kami ingin memastikan para nelayan memiliki sistem pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan," ungkap dia dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026).
Broto juga menjelaskan pengembangan ekonomi masyarakat menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan.
"Kami menyadari keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang operasional, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat sekitar merasakan manfaat ekonomi secara nyata. Melalui penguatan sektor perikanan seperti SUTAN, kami ingin pertumbuhan industri berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat," pungkas dia.
Dari sisi nelayan, Ibrahim, penggerak kelompok SUTAN mengatakan harga ikan konsumsi di pasar lokal berkisar Rp 30 ribu per kilogram untuk kerapu dan kakap, sementara tuna sekitar Rp 22 ribu per kilogram. Di tengah tantangan cuaca dan fluktuasi harga, nelayan kini memiliki akses pasar yang lebih stabil melalui SUTAN.
"Hasil tangkapan kelompok SUTAN bukan hanya untuk kebutuhan rumah. Nelayan bisa menyalurkan lebih dari 1-2 ton per bulan ke dapur-dapur katering di Harita Nickel," ujar dia.
Ibrahim juga mengatakan Program SUTAN mendukung nelayan melalui fasilitas pengolahan ikan dan penyimpanan dingin atau cold storage, serta pelatihan manajemen mutu dan pencatatan keuangan kelompok. Fasilitas ini membantu menjaga kualitas hasil tangkapan dan memungkinkan nelayan mengatur waktu penjualan agar harga tetap stabil.
"Dengan cold storage, kami tidak harus menjual semua ikan di hari yang sama. Kalau tangkapan banyak, bisa disimpan dulu. Kualitas kesegaran ikan jadi lebih lama, membuat harga jadi kompetitif," pungkas Ibrahim.
Foto: dok Istimewa
Sebagai informasi, selain dukungan infrastruktur, Harita Nickel memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, pendampingan manajemen usaha, serta bantuan alat tangkap dan pemasaran. Pendekatan ini memungkinkan nelayan di Desa Kawasi mengakses pasar secara langsung dan menjadi bagian dari rantai distribusi yang efisien.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan tata kelola keuangan dan administrasi kelompok. Para nelayan dibimbing dalam perencanaan, pengelolaan, pencatatan, dan pelaporan keuangan agar kegiatan usaha dapat berjalan lebih transparan dan berkelanjutan.
Kelompok SUTAN terdiri dari 14 anggota yang aktif dan bertanggung jawab dalam pengelolaan usaha. Berkat dedikasi mereka, pengiriman ikan dapat dilakukan secara rutin setiap bulan.
Selain penguatan sektor perikanan, perusahaan bersama masyarakat juga melakukan rehabilitasi mangrove yang hingga 2024 telah mencapai lebih dari 23 hektare kawasan pesisir. Upaya ini bertujuan menjaga ekosistem pantai dari abrasi serta mendukung keberlanjutan sumber daya laut.
Dukungan sosial lainnya mencakup layanan kesehatan melalui PUSTU Soligi dengan penyediaan tenaga medis dan suplai obat rutin, serta pembangunan infrastruktur pendukung aktivitas sosial masyarakat.
(dpu/dpu)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































