REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi bergerak menguat di tengah investor yang masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan global. Sementara mata uang rupiah justru melemah 26 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 17.978 per dolar AS.
IHSG dibuka menguat 14,72 poin atau 0,26 persen ke posisi 5.709,84. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,57 poin atau 0,46 persen ke posisi 559,32.
"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan level support 5.320 dan resistance 5.735. Potensi koreksi masih dapat terjadi sehingga investor perlu tetap berhati-hati," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Dari mancanegara, dalam pertemuan Forum Perbankan European Central Bank (ECB), Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir dengan target inflasi tetap berada di level 2 persen.
Warsh mengatakan ekspektasi inflasi selama empat pekan pertama kembali menurun sehingga sejalan dengan fokus The Fed dalam menjaga stabilitas inflasi.
Seiring The Fed tidak menaikkan suku bunga, imbal hasil obligasi juga tidak kembali meningkat, bahkan cenderung menurun. The Fed menilai kenaikan inflasi pada tahun sebelumnya hanya bersifat sementara.
"Karena saat ini harga energi dan bensin terus mengalami penurunan setelah adanya kabar baik mengenai kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran," ujar Nico.
Selain itu, Warsh mengingatkan bahwa The Fed tetap independen meskipun Presiden AS Donald Trump menginginkan penurunan suku bunga. Warsh mengatakan The Fed akan memiliki arah kebijakan baru, namun belum menjelaskan lebih lanjut.
"Proyeksi terbaru menunjukkan 18 pejabat The Fed memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada tahun ini," ujar Nico.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2026 secara bulanan mencapai 0,44 persen (month to month/mtm), secara tahun kalender 1,79 persen (year to date/ytd), dan secara tahunan 3,34 persen (year on year/yoy). Kenaikan inflasi dipengaruhi faktor musiman, kenaikan harga bahan baku, serta kenaikan harga BBM.
Selain itu, BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir setelah nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, melampaui nilai ekspor sebesar 23,20 miliar dolar AS.
"Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan," ujar Nico.
Di sisi lain, kenaikan impor mencerminkan masih kuatnya kebutuhan domestik, baik untuk bahan baku, barang modal, maupun energi. Jika peningkatan impor didominasi bahan baku dan barang modal, kondisi tersebut masih dapat dipandang positif karena mendukung aktivitas produksi dan investasi.
Nico mengatakan apabila tren pelemahan ekspor berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, surplus perdagangan yang selama ini menjadi penopang stabilitas nilai tukar rupiah dan cadangan devisa berpotensi menyusut.
"Meski demikian, karena secara kumulatif Januari—Mei 2026 neraca perdagangan masih mencatat surplus, dampaknya terhadap fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih terbatas," ujar Nico.
Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), bursa Eropa bergerak variatif. Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,18 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,18 persen, sedangkan indeks CAC 40 Prancis melemah 0,79 persen.
Bursa AS Wall Street juga bergerak variatif. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,03 persen, indeks S&P 500 melemah 0,20 persen, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,54 persen.
Sementara itu, bursa saham Asia pada Kamis pagi bergerak beragam. Indeks Nikkei menguat 1,55 persen ke 19.733,00, indeks Shanghai melemah 0,83 persen ke 4.078,00, indeks Hang Seng melemah 1,15 persen ke 23.143,00, dan indeks Strait Times menguat 0,49 persen ke 5.186,00.
sumber : Antara

13 hours ago
8















































