Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengingatkan Indonesia tidak cukup hanya mengejar kecakapan teknologi dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) masa depan. Kemampuan yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan atau green skill dinilai akan menjadi salah satu kompetensi penting di tengah ancaman perubahan iklim dan transformasi menuju Society 5.0.
Arif mengatakan arah perkembangan peradaban kini tidak lagi hanya bertumpu pada kemajuan teknologi. Society 5.0 justru menempatkan manusia dan keberlanjutan lingkungan sebagai dua fondasi utama.
"Sekarang ketika bicara 5.0, dua kata kunci adalah tentang humanity dan sustainability. Sekarang semua orang sudah mulai melihat kembali makna sustainability ketika ancaman perubahan iklim sudah menjadi keseharian," kata Arif dalam Penganugerahan Sarwono Award dan Sarwono Memorial Lecture 2026 di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Menurut Arif, perubahan tersebut membuat green skill semakin bernilai. Kompetensi yang sebelumnya banyak diasosiasikan dengan peneliti lingkungan atau pekerjaan tertentu kini dibutuhkan jauh lebih luas, termasuk oleh sektor swasta.
"Dalam green skill, skill hijau, ini merupakan skill yang diperlukan untuk hari ini dan masa depan. Jadi green skill ini tidak semata-mata diperlukan dalam dunia akademik, tetapi juga di dunia private (swasta)," ujarnya.
Kebutuhan tersebut juga terlihat dalam pasar tenaga kerja global. Global Green Skills Report 2025 yang diterbitkan LinkedIn menunjukkan permintaan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan hijau tumbuh sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan jumlah pekerja yang memiliki keterampilan tersebut. Permintaan green hires tumbuh sekitar delapan persen, sedangkan pasokan green skill pada tenaga kerja hanya bertambah sekitar empat persen.
Data itu sekaligus menunjukkan green skill tidak lagi terbatas pada pekerjaan yang secara tradisional berlabel "hijau". Untuk pertama kalinya, lebih dari separuh perekrutan tenaga kerja berketerampilan hijau justru terjadi pada pekerjaan di luar kategori green jobs. Tenaga kerja yang memiliki green skill juga memiliki tingkat perekrutan sekitar 46,6 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata tenaga kerja global. Kebutuhannya tumbuh antara lain dalam sektor keuangan, teknologi, ritel, logistik dan utilitas.
Bagi Arif, green skill tidak berhenti pada kemampuan mengelola energi bersih, limbah atau produksi berkelanjutan. Keahlian tersebut juga menjadi penting untuk menjawab persoalan konservasi keanekaragaman hayati yang semakin kompleks.
Ia mencontohkan ancaman kepunahan Badak Sumatera. Populasi satwa tersebut disebut terus menyusut dan diperkirakan hanya tersisa sekitar 50 ekor di alam liar. Kondisi itu membuat pendekatan konservasi konvensional saja tidak lagi memadai.
sumber : Antara

2 hours ago
3












































