Jakarta, CNN Indonesia --
Perang Amerika Serikat vs Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari hingga hari ini ternyata tak hanya mengacaukan stabilitas Timur Tengah, tapi juga membuat pusing hampir sebagian negara di dunia.
Sebab, perang yang dipicu oleh serangan udara AS-Israel ke Teheran itu kini membuat salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, Selat Hormuz, terpengaruh hingga memicu alur pasokan minyak dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak AS dan Israel melancarkan gempuran ke Iran, Teheran menutup jalur Selat Hormuz untuk kapal-kapal, terutama yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim vital yang dilewati pasokan sekitar 20 juta barel minyak atau 20% konsumsi minyak dunia setiap hari. Terletak antara Iran dan Oman, selat ini merupakan titik rawan strategis utama yang menghubungkan produksi minyak negara-negara Arab di Teluk Persia ke pasar global.
Sementara itu, Iran sendiri merupakan satu dari tiga negara kaya minyak dengan cadangan terbesar di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi.
Menurut Energy, Oil, & Gas Magazine, Iran memiliki cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia, yang diperkirakan mencapai 208,6 miliar barel pada 2024. Cadangan ini terutama berada di wilayah barat daya, dengan ladang-ladang besar seperti Ahvaz dan Marun.
Sektor minyak negara tersebut dikelola oleh National Iranian Oil Company (NIOC). Namun, meskipun memiliki cadangan yang sangat besar, produksi minyak Iran masih terkendala oleh sanksi internasional serta terbatasnya investasi asing. Pada 2024, kapasitas total penyulingan minyak mentah Iran diperkirakan sekitar 2,1 juta barel per hari.
Ketegangan geopolitik juga turut memengaruhi ekspor minyak Iran, terutama terkait kekhawatiran atas Selat Hormuz. Meski demikian, Iran tetap menjadi pemain penting dalam industri minyak global, dengan cadangannya mencakup sekitar 12 persen dari total cadangan dunia.
Ternyata ada suatu peristiwa alam besar yang membuat letak geografis Iran sangat strategis minyak.
Bagaimana Selat Hormuz terbentuk dan punya banyak cadangan minyak?
Selat merupakan perairan sempit yang menghubungkan dua badan air besar. Selat kerap menjadi jalur strategis atau chokepoint pelayaran dunia lantaran menghemat bahan bakar dan mempersingkat waktu tempuh.
Selat terbentuk secara alami selama jutaan tahun akibat pergerakan lempeng tektonik dan kenaikan permukaan laut seiring mencairnya es di kutub. Sejak lama, pelaut memanfaatkan jalur ini sebagai "jalan pintas" karena lebih cepat dibandingkan harus mengelilingi daratan atau benua.
Dalam kasus Selat Hormuz, perairan terbentuk sekitar 35 juta tahun lalu ketika dua lempeng benua bertabrakan: Lempeng Arab di selatan dan Lempeng Eurasia di utara.
Dikutip National Geographic, pada masa itu, kedua benua dipisahkan oleh Samudra Tethys. Lempeng Arab kemudian bergerak ke utara dan menyusup ke bawah Lempeng Eurasia dalam proses yang disebut subduksi. Proses ini secara bertahap "menelan" Samudra Tethys saat kedua benua dan daratan di atasnya menyatu.
"Yang menarik, tabrakan benua tidak terjadi dalam sekejap. Gaya-gaya dalam bumi yang menggerakkan lempeng masih terus bekerja bahkan setelah jutaan tahun," kata Kepala Departemen Ilmu Pengetahuan Alam Semesta Universitas Durham Inggris, Mark Allen.
Ketika Lempeng Arab terus mendesak ke bawah Eurasia, kedua lempeng menjadi semakin pendek dan tebal bak dua mobil yang bertabrakan. Proses ini kemudian membentuk Pegunungan Zagros di Iran.
Gerakan tektonik ini juga menciptakan kondisi Selat Hormuz bisa terbentuk. Allen mengibaratkan Lempeng Arab seperti penggaris lentur ketika salah satu ujungnya diberi beban berat seperti pegunungan, bagian lainnya akan melengkung ke bawah dan membentuk cekungan. Cekungan inilah yang kemudian menjadi Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sekitar 20.000 tahun lalu, saat puncak Zaman Es terakhir, wilayah Teluk Persia masih sangat dangkal bahkan bisa dilintasi dengan berjalan kaki di beberapa titik.
Namun, ketika es mulai mencair, permukaan laut global naik drastis-sekitar 100 meter dalam 15.000 tahun. Air laut pun membanjiri kawasan tersebut, termasuk wilayah yang kini menjadi Irak, dan akhirnya membentuk Teluk Persia modern serta mengisi Selat Hormuz.
Proses geologis yang sama juga menyebabkan semenanjung ini "menjepit" Selat Hormuz, menjadikannya titik sempit yang sangat strategis.
Tabrakan benua ini juga menghasilkan cadangan minyak yang sangat melimpah di kawasan tersebut. Selama ratusan juta tahun sebelum tabrakan, Lempeng Arab berada di bawah laut dan mengumpulkan material organik yang kemudian berubah menjadi minyak dan gas. Saat lempeng bertabrakan, kantong-kantong energi ini terperangkap di bawah lapisan batuan yang ternyata kini berada di bawah Iran, Irak, dan sebagian Suriah.
"Yang membedakan Timur Tengah adalah skalanya yang sangat besar," kata Allen. "Cadangan energi di sini terbentuk dalam area luas dan dalam waktu sangat panjang, sehingga bisa bertahan puluhan tahun."
Menariknya, pergerakan geologis di kawasan ini masih berlangsung hingga kini, meski dalam skala waktu yang sangat panjang. Penelitian menunjukkan Semenanjung Musandam masih terus bergerak ke arah Pegunungan Zagros.
"Selat Hormuz pada akhirnya akan tertutup secara alami," kata Searle, meski proses itu diperkirakan baru terjadi dalam setidaknya 10 juta tahun mendatang.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2















































