
Oleh: Nashih Nashrullah, redaktur Republika.co.id
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Setelah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas melahirkan kepemimpinan baru, pertanyaan berikutnya bukan semata siapa yang akan duduk dalam struktur PBNU.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah figur-figur top leader seperti apa yang dibutuhkan NU untuk menghadapi lima tahun ke depan?
Pertanyaan ini penting karena tantangan NU semakin kompleks. NU harus tetap berakar pada pesantren, tetapi pada saat yang sama mampu berbicara dalam bahasa akademik, politik kebangsaan, ekonomi, teknologi, dan percaturan dunia Islam.
Karena itu, posisi Sekretaris Jenderal PBNU tidak tepat jika dipahami hanya sebagai jabatan administratif.
Sekjen adalah mesin organisasi menerjemahkan keputusan kepemimpinan menjadi program, menghubungkan PBNU dengan struktur di bawahnya, sekaligus memastikan organisasi tidak berhenti pada gagasan dan konferensi.
Tentu, banyak tokoh-tokoh, kader-kader NU terbaik di luar sana yang patut dipertimbangkan menduduki posisi vital ini. Dalam kebutuhan seperti yang penulis sampaikan seperti itu, sosok KH M Cholil Nafis menjadi menarik untuk diperbincangkan.
Memasuki fase baru perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) setelah satu abad berdiri, kebutuhan terhadap kepemimpinan keagamaan yang memiliki kedalaman epistemologis, keluasan wawasan, dan kemampuan membaca perubahan sosial menjadi semakin penting.
Dalam konteks tersebut, KH Muhammad Cholil Nafis, PhD merupakan salah satu figur yang memiliki kombinasi pengalaman pesantren, akademik, kelembagaan, dan organisasi yang relevan dengan kebutuhan penguatan peran Tanfidziyah PBNU.
Ia tumbuh dari tradisi salah satu pesantren tertua di Indonesia yaitu, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sidogiri, Jawa Timur. Tetapi perjalanan intelektualnya kemudian membawanya memasuki ruang akademik yang lebih luas.
Secara akademik, perjalanan intelektualnya memperlihatkan pertemuan antara tradisi keilmuan pesantren dan pendidikan tinggi modern.
Pendidikan di lingkungan pesantren Madura dan Jawa Timur dilanjutkan melalui LIPIA Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Malaya, serta pengalaman akademik di Maroko dan Inggris.

7 hours ago
6

















































