Imam Al-Ghazali Dituduh Diam Saat Yerusalem Direbut Pasukan Salib, Apa Sikapnya terhadap Jihad?

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Imam Abu Hamid al-Ghazali merupakan salah satu ulama besar dan tokoh terkemuka dalam sejarah Islam memberikan jasa yang sangat besar bagi Islam dan kaum Muslimin, yang tidak akan terhapus oleh pergantian zaman.

Bahkan beliau memperoleh gelar yang sangat khas dan hampir tidak diberikan kepada ulama lain, yaitu “Hujjatul Islam”.

Namun, sebagaimana para ulama dan ahli fikih lainnya, Imam al-Ghazali rahimahullah juga tidak luput dari kritik. Yang kita maksud bukanlah serangan dari para musuh Islam, karena hal semacam itu merupakan sesuatu yang wajar.

Yang dimaksud adalah kritik dan serangan yang datang dari sebagian kalangan ulama dan intelektual Muslim sendiri—orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap agama, mencintai dan menghormati Imam al-Ghazali, mengikuti manhajnya, serta menjadikan karya-karya dan perkataannya sebagai rujukan.

Salah satu kritik atau pertanyaan yang paling menonjol adalah: meskipun Imam al-Ghazali memiliki keluasan ilmu, kekuatan argumentasi, keteguhan akidah, kelurusan manhaj, kezuhudan, kewaraan, serta perhatian yang sangat besar terhadap amar makruf dan nahi mungkar, mengapa al-Ghazali tampak begitu menghindari pembahasan tentang jihad militer kaum Muslimin dan peperangan yang diwajibkan agama terhadap para penjajah dan musuh umat?

Terlebih lagi, beliau hidup pada masa Perang Salib dan menyaksikan serangan besar-besaran pasukan Salib terhadap dunia Islam, berbagai pembantaian yang mereka lakukan, serta kehancuran yang mereka timbulkan di kota-kota dan desa-desa Syam.

Lantas, apa yang menyebabkan beliau diam?

Bagaimana mungkin seorang ulama besar dan imam yang memiliki kedudukan seperti al-Ghazali seolah-olah tidak memberikan perhatian terhadap peristiwa besar tersebut? Bagaimana mungkin beliau tidak menyerukan jihad atau membicarakannya dalam situasi ketika umat berada dalam kondisi “jihad defensif” (jihad ad-daf')?

Ketika Dinasti Saljuk mulai berkuasa, kesadaran tentang jihad kembali tumbuh di kalangan kaum Muslimin.

Dalam rentang waktu sejak masuknya bangsa Saljuk ke Baghdad hingga tahun 490 H—tahun yang menandai dimulainya serangan Pasukan Salib terhadap Syam—mereka berhasil merebut kembali seluruh wilayah Syam bagian utara dari tangan Bizantium.

Mereka bahkan memasuki Asia Kecil dan berhasil menawan Kaisar Bizantium dalam Perang Manzikert yang terkenal. Peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah peperangan antara kaum Muslimin dan Bizantium.

Namun, sejak tahun 490 H, peperangan tersebut memasuki fase baru. Konflik itu berubah menjadi Perang Salib.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |