IHSG Sesi 1 Ditutup Turun 1,27%, BREN dan DSSA Masih Jadi Biang Kerok

4 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi 1 di zona merah, Kamis (23/4/2026). IHSG ditutup turun 95,64 poin atau -1,27% ke level 7.445,97.

Sebanyak 471 saham turun, 236 naik, dan 252 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 11,67 triliun, melibatkan 31,09 miliar saham dalam 1,88 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 13.269 triliun. 

Adapun saham-saham konglomerasi bisnis Prajogo Pangestu tercatat ambruk berjamaah pada perdagangan hari ini. Saham BREN dan DSSA yang terdampak pengumuman MSCI terbaru masih menjadi beban utama IHSG.

BREN yang turun 8,52% lebih berkontribusi sebesar 16,97 poin terhadap penurunan IHSG. Kemudian DSSA yang anjlok 4,38% menyumbang -9,7 poin.

Selain itu sejumlah saham komoditas juga ikut membebani IHSG, seperti Amman Mineral (AMMN), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Bayan Resources (BYAN).

Sebagaimana diketahui, BREN dan DSSA mendapatkan tekanan jual besar sejak pengumuman dari MSCI. Indeks global itu mengumumkan akan mendepak saham yang tercatat dalam daftar High Shareholder Concentration (HSC) yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Diketahui BREN dan DSSA tercatat di antara 9 saham yang masuk daftar HSC.

Investor asing tercatat kompak secara masif melepas saham BREN dan DSSA pada perdagangan kemarin. Keputusan MSCI untuk mengeksekusi penghapusan emiten HSC pada Mei mendatang akan memicu restrukturisasi portofolio asing yang terukur. Penghapusan saham seperti BREN dan DSSA diproyeksikan akan memaksa likuidasi dana pasif sekitar Rp25,5 triliun.

Sementara itu, pasar minyak dunia kembali bergejolak. Pada perdagangan Kamis pagi pukul 10.10 WIB, harga minyak melanjutkan reli tajam setelah ketegangan di Selat Hormuz semakin dalam.

Melansir Refinitiv, minyak mentah Brent berada di US$103,93 per barel, naik dari penutupan sebelumnya di US$101,91. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$95,05 per barel, dari US$92,96.

Kenaikan ini datang setelah sehari sebelumnya harga juga melonjak lebih dari 3%. Brent pada penutupan Rabu sempat naik US$1,85 atau 1,82%, sedangkan WTI bertambah US$1,91 atau 2,05%. Artinya, pasar sedang menempatkan premi risiko geopolitik dalam skala besar ke harga energi. Dalam kurang dari sepekan, Brent sudah naik dari US$90,38 pada 17 April menjadi nyaris US$104 pagi ini.

Akar kegelisahan pasar berada di Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global.

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |