Ini 7 Ciri-ciri Rumah Tangga Sulit untuk Dipertahankan Menurut Sains

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Minggu, 01 Mar 2026 17:00 WIB

Kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko perceraian. Untuk menghindarinya, kenali ciri-ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan berikut ini. Ilustrasi. Ada beberapa ciri-ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan. (iStockphoto)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap pasangan tentu berharap pernikahan yang dijalani bisa bertahan lama. Namun, dalam realitas kehidupan, ada kondisi tertentu yang secara ilmiah berkaitan dengan meningkatnya risiko perceraian.

Untuk menghindarinya, ada baiknya kamu memahami bagaimana ciri-ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan.

Ilmu psikologi hubungan menunjukkan bahwa keretakan rumah tangga jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya, ada pola perilaku, dinamika emosional, atau faktor eksternal yang perlahan menggerus kualitas hubungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri-ciri rumah tangga tidak bisa dipertahankan

Dengan mengenali tanda-tanda ini, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk melakukan evaluasi sebelum situasi semakin memburuk.

1. Terlalu intens di awal hubungan

Melansir penjelasan di laman Science Alert, hubungan yang tampak sangat menggebu-gebu di awal justru bisa menjadi sinyal risiko. Penelitian menunjukkan, pasangan yang terlalu melekat sejak awal cenderung lebih rentan berpisah di kemudian hari.

Bukan berarti cinta yang kuat itu buruk, namun intensitas berlebih kadang menjadi 'kompensasi' atas fondasi hubungan yang belum benar-benar kokoh.

Seiring waktu, ketika realitas hubungan muncul, pasangan bisa merasa ekspektasi awal tidak terpenuhi. Di sinilah konflik mulai berkembang.

2. Pola konflik yang tidak sehat

Pertengkaran sebenarnya wajar dalam rumah tangga. Yang menjadi masalah adalah bagaimana pasangan bertengkar dan menyelesaikannya.

Psikolog John Gottman menemukan bahwa perilaku seperti meremehkan pasangan, terlalu defensif, sering mengkritik karakter, dan menutup komunikasi adalah prediktor kuat perceraian.

Jika konflik selalu berujung saling menyerang tanpa solusi, hubungan akan terkikis perlahan. Bukan konflik yang berbahaya, melainkan pola konflik yang destruktif.

3. Sering bertengkar soal pekerjaan rumah

Masalah domestik yang tampak sepele ternyata punya dampak besar. Studi dari Harvard menunjukkan, perbedaan soal urusan rumah tangga menjadi salah satu alasan utama pasangan mengajukan perceraian.

Ketika pembagian tugas rumah tidak disepakati dengan baik, rasa tidak adil mudah muncul. Dalam jangka panjang, ini bisa menumpuk menjadi konflik emosional yang lebih besar. Jika pertengkaran soal hal kecil terjadi terus-menerus, rumah tangga jadi sulit untuk dipertahankan.

4. Tekanan finansial dan pengeluaran berlebihan

ilustrasi pasanganIlustrasi. Ada beberapa ciri-ciri rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan. (iStockphoto)

Faktor keuangan juga berperan penting. Penelitian menemukan bahwa pasangan yang menghabiskan uang terlalu besar untuk cincin pertunangan atau pernikahan memiliki risiko perceraian lebih tinggi.

Penjelasannya berkaitan dengan pola finansial yang tidak sehat sejak awal. Gaya hidup di luar kemampuan dapat memicu stres keuangan di kemudian hari.

Ketika tekanan finansial bertemu dengan komunikasi yang lemah, konflik rumah tangga cenderung semakin intens.

5. Menganggap pasangan sempurna

Percaya bahwa pasangan adalah satu-satunya yang sempurna terdengar romantis. Namun, penelitian menunjukkan, keyakinan berlebihan ini justru bisa berujung kekecewaan. Pasalnya, hubungan yang sehat biasanya dibangun di atas penerimaan realistis, bukan ekspektasi tanpa cela.

Ketika kamu menganggap pasangan sempurna, lalu realitas hubungan tidak sesuai ekspektasi ideal, rasa frustrasi mudah muncul. Dalam jangka panjang, kamu akan mudah kecewa pada perilaku pasangan dan berujung pada perpisahan.

6. Reaksi emosional yang terlalu intens saat bertengkar

Salah satu temuan penting adalah respons fisiologis saat konflik. Jika detak jantung pasangan melonjak di atas 100 BPM ketika bertengkar, peluang hubungan bertahan cenderung menurun.

Kondisi ini menunjukkan tubuh masuk ke mode 'fight or flight'. Dalam keadaan ini, kemampuan mendengar dan memahami pasangan menjadi sangat terbatas. Jika situasi ini sering terjadi, komunikasi produktif hampir mustahil tercapai.

7. Faktor pendidikan dan stabilitas

Data juga menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pendidikan dan ketahanan pernikahan. Misalnya, perempuan dengan pendidikan perguruan tinggi memiliki peluang lebih besar mempertahankan pernikahan jangka panjang dibanding yang berpendidikan lebih rendah.

Hal ini diduga berkaitan dengan stabilitas finansial dan kemampuan mengelola stres. Meski bukan penentu tunggal, faktor ini tetap menjadi bagian dari gambaran besar.

Itu dia sejumlah ciri-ciri rumah tangga tidak bisa dipertahankan yang perlu kamu hindari. Semoga bermanfaat.

(han/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |