REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setengah dari populasi Indonesia memiliki sifat overthinking atau pola pikir negatif yang berulang dengan kecenderungan khawatir berlebihan terhadap masa depan. Hal ini merujuk pada studi yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) pada 2025.
Penelitian melibatkan 1.061 responden dari 29 provinsi selama Januari hingga Februari 2025. Hasilnya ditemukan bahwa 50 persen dari mereka mengalami overthinking, sementara 30 persen mengalami ruminasi yakni kebiasaan berpikir berulang tentang kejadian negatif pada masa lalu tanpa solusi.
Terapis Jeffrey Meltzer mengatakan overthinking kerap muncul karena seseorang takut membuat keputusan yang salah dan menyesal setelahnya. Akibatnya, proses menentukan pilihan bisa berlangsung terlalu lama.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan. Dilansir laman Hindustan Times, Senin (14/9/2026), Meltzer menguraikan tiga dampak overthinking dan langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:
1. Overthinking bikin seseorang terus menunda
Ketakutan membuat kesalahan dapat membuat seseorang terus memikirkan berbagai kemungkinan. Bukannya segera bertindak, ia justru merasa lumpuh dan menunda sesuatu yang sebenarnya perlu dilakukan.
Meltzer mengatakan overthinking sering terasa seperti kegiatan yang produktif. Padahal, kebiasaan tersebut bisa menjadi cara untuk menunda menghadapi ketidakpastian sekaligus rasa menyesal yang ditakutkan muncul setelah melakukan kesalahan.
Sebagai solusi, Meltzer menyarankan untuk tidak terus berusaha memastikan bahwa setiap keputusan pasti benar. "Sebaliknya, tanyakan kepada diri sendiri: jika keputusan ini berakhir buruk, apakah saya bisa menghadapinya? Ketika Anda bisa menoleransinya, maka semuanya akan jauh lebih mudah," kata dia
2. Kepercayaan diri jadi rendah karena overthinking
Overthinking juga dapat membuat kepercayaan diri semakin rendah. Meltzer menjelaskan setiap kali overthinking membuat seseorang gagal mengambil keputusan, ia kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu memilih sekaligus menghadapi hasil dari pilihan tersebut.
"Akibatnya, kepercayaan diri Anda menurun dan keputusan berikutnya pun terasa lebih berisiko, yang pada akhirnya semakin memperkuat siklus overthinking," kata dia.
Untuk keluar dari siklus ini, Meltzer menyarankan agar seseorang berhenti mencari kepastian bahwa pilihannya akan selalu berakhir dengan baik. Sebaliknya, coba ingat kembali keputusan-keputusan yang pernah diambil dan ternyata bisa dilewati dengan baik, termasuk pilihan yang hasilnya tidak sesuai harapan.
"Kepercayaan diri akan tumbuh saat Anda memercayai kemampuan diri untuk merespons situasi, bahkan ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan," kata dia.

48 minutes ago
3

















































