Iran Siap Bikin Malu AS jika Berani Invasi Darat: Kami Tunggu Mereka

11 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran menyatakan akan membuat malu Amerika Serikat saat Presiden Donald Trump membuka peluang untuk meluncurkan invasi di negara tersebut.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, mengatakan Pasukan Garda Revolusi Islam siap menangkap dan membunuh pasukan AS jika mereka betul-betul memasuki negara ini.

"Beberapa pejabat Amerika menyatakan mereka bermaksud memasuki wilayah Iran melalui jalur darat dengan beberapa ribu pasukan," kata Ali, dikutip Al Jazeera, Kamis (5/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia lalu memperingatkan Washington konsekuensi jika tetap memaksa masuk Iran. Meski begitu, Larijani menegaskan negara ini siap dengan skenario apa pun.

Lebih lanjut, ia mengatakan putra-putri bangsa yang pernah dipimpin Ruhollah Khomenei dan Ali Khamenei ini bakal terus melanjutkan perjuangan melawan AS-Israel.

"Anak-anak Imam Khomeini dan Imam Khamenei yang gagah berani sedang menunggu kalian, siap mempermalukan para pejabat Amerika yang korup itu dengan membunuh dan menangkap ribuan orang," ujar Larijani.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut menggemakan pernyataan Larijani. Menlu itu menegaskan Iran tak takut kemungkinan invasi AS.

"Tidak, kami sedang menunggu mereka," kata Araghchi kepada NBC News.

Araghchi lalu mengatakan serangan darat akan menjadi "bencana besar" bagi pasukan AS.

Komentar para pejabat Iran itu muncul usai Trump membuka kemungkinan pasukan darat masuk Iran.

"Saya tak merasa gugup soal pengerahan pasukan darat - seperti yang selalu dikatakan setiap presiden, 'Tidak akan ada pasukan darat.' Saya tidak mengatakannya," kata Trump saat wawancara dengan New York Times awal pekan ini.

"Saya mengatakan 'mungkin tidak membutuhkannya,' [atau] 'jika memang diperlukan'," imbuh dia.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengulangi kemungkinan pengerahan pasukan ke Iran. Ia mengonfirmasi saat ini tidak ada pasukan AS di dalam Iran, tetapi tetap membuka opsi tersebut.

"Anda tidak perlu mengirimkan 200.000 orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun," kata Hegseth, dikutip Al Jazeera.

AS dan sekutu dekatnya Israel sedang terlibat perang dengan Iran sejak pekan lalu. Konflik ini bermula setelah Washington dan Tel Aviv menggempur negara Timur Tengah itu hingga menyebabkan Khamenei serta ribuan warga lainnya tewas.

(isa/dna)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |