Akmal Fauzi Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)
BAGI negara seperti Tanjung Verde (Tanjung Hijau), sebuah negara berpenduduk setengah juta jiwa, nama mereka kerap kali luput dari pandangan mata. Jangankan mengenal budayanya, sebagian besar dari kita, termasuk saya, harus mengerutkan kening demi mencari letak persis negara di lepas pantai Afrika Barat tersebut.
Namun, sepak bola selalu punya cara magis untuk melipat jarak dan memperkenalkan sebuah bangsa. Lewat panggung akbar Piala Dunia 2026, Tanjung Verde datang bukan untuk sekadar menjadi pelengkap.
Lupakan sejenak romansa klise tentang kebintangan para pesohor lapangan hijau sekelas Lionel Messi atau Erling Haaland. Di atas rumput hijau, panggung megah itu mendadak dirampas para debutan yang datang hanya berbekal mimpi dan nyali.
Dunia dibuat terpaku saat raksasa Eropa, Spanyol, dibuat frustrasi dan dipaksa berbagi angka tanpa gol di fase grup. Saya pun ikut merayakan kemeriahan saat jala gawang Uruguai digetarkan gol pertama sepanjang sejarah mereka.
Puncaknya terjadi pada babak 32 besar. Ketika Sidny Lopes Cabral melepaskan tendangan spektakuler, sang juara bertahan Argentina dipaksa gemetar di tepi jurang kecemasan pada babak tambahan waktu.
Ketika peluit panjang ditiup setelah babak perpanjangan waktu mengunci angka 3-2 untuk Argentina, drama itu paripurna. Para pemain berjuluk 'Blue Sharks' (Hiu Biru) itu ambruk ke rumput. Tangis mereka pecah. Bukan karena mereka menyesali kekalahan dari gol di menit ke-111, melainkan karena mereka tahu, mereka baru saja menyentuh batas terjauh dari sebuah kemustahilan. Mereka menangis karena jatuh cinta pada atmosfer panggung dunia.
Ada benarnya seloroh pengamat sepak bola, James McFadden, seperti dikutip BBC. Di lapangan hijau, ada tim yang kalah, tetapi sebenarnya menang. Tanjung Verde kehilangan angka di papan skor, tetapi memenangi martabat, kehormatan, dan hati jutaan manusia di bumi.
Kata bek mereka, Roberto 'Pico' Lopes, dengan mata berkaca-kaca, "Hal terbaik dari Piala Dunia ini ialah tidak ada lagi orang yang bertanya di mana letak Tanjung Verde di peta dunia."
Sepak bola telah melukis ulang peta itu. Format baru Piala Dunia dengan 48 tim, yang awalnya dicibir banyak kalangan sebagai komersialisasi murahan FIFA, mendadak dimaafkan. Eks penyerang Inggris, Ian Wright, bahkan mengetuk pintu nurani FIFA agar dana melimpah sepak bola didistribusikan secara adil. Tanjung Verde telah membuktikan, jika diberi panggung yang setara, si kurcaci pun sanggup membuat raksasa terhuyung-huyung.
Simbol dari segala heroisme itu mewujud pada sosok Vozinha. Sebelum turnamen, kiper gaek berusia 40 tahun itu tak punya klub setelah kontraknya diputus tim divisi dua Portugal. Namun, dengan modal 18 penyelamatan heroik di sepanjang turnamen, ia meninggalkan lapangan sembari mengibarkan bendera negaranya tinggi-tinggi. Dunia yang semula acuh kini bertanya-tanya, di mana ia bersembunyi selama ini?
Setelah membaca dongeng indah dari Afrika Barat itu, pikiran kita seketika terlempar kembali ke Tanah Air. Di sini, di negeri dengan lebih dari 280 juta kepala, kita ialah konsumen visual sepak bola yang paling setia, paling fanatik. Kita begitu mahir merayakan dongeng kepahlawanan negara lain, sembari terus merawat imajinasi, kapan giliran kain Merah Putih berkibar di panggung yang sama?
Andai hari itu tiba, kita mungkin tak perlu lagi disuguhi bisingnya lini masa media sosial karena polarisasi politik atau debat kusir yang melelahkan. Untuk beberapa jam, kita akan melupakan sejenak urusan harga BBM yang mencekik. Kita akan melebur menjadi satu identitas yang utuh, Indonesia.















































