(MI/Seno)
INDUSTRI teknologi global sebagian besar diisi oleh talenta migran. India menjadi juaranya, dengan banyaknya perusahaan raksasa teknologi yang dipimpin oleh eksekutif dari ‘Negeri Hindustan’. Di antaranya, Microsoft yang dipimpin oleh Satya Nadella, Alphabet (Google) oleh Sundar Pichai, dan IBM oleh Arvind Krishna.
Lewat talenta migran yang dimiliki India, industri berteknologi tinggi berkembang subur di Bangalore, dengan 40% ekspor software negara itu berasal dari sana. Tidak hanya di level eksekutif, para insinyur dan manajer juga membentuk jejaring global yang membuat industri berteknologi tinggi di India berkembang. Dan tentunya ilmuwan di beragam laboratorium riset, bahkan memimpin perguruan tinggi ternama seperti MIT dan Carnegie Mellon.
Harapan besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada perguruan tinggi (PT). Presiden Prabowo Subianto telah bertemu dan berdialog dengan pimpinan PT serta guru besar sebanyak 4 kali dalam 21 bulan terakhir. Melibatkan secara aktif dalam beragam formulasi kebijakan dan pengembangan SDM yang siap menghadapi masa depan menjadi cara untuk menyatukan seluruh potensi demi memajukan bangsa. Di era knowledge economy, talenta yang unggul akan menentukan kemajuan bangsa. Seiring dengan bonus demografi, talenta unggul menjadi peluang terbesar bagi Indonesia untuk keluar dari middle-income trap.
Untuk melakukannya, Indonesia dapat belajar dari negara-negara Asia-Pasifik lain yang mampu mengombinasikan talenta domestik dan diaspora yang dimiliki mereka. Bagaimana seharusnya mengelola talenta untuk mempercepat kemajuan bangsa?
KONDISI INDONESIA
Beragam proyeksi positif dari lembaga independen internasional tentang Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar keempat atau kelima dunia di tahun 2050. Proyeksi itu didasarkan pada bonus demografi yang dimiliki Indonesia sejak 2012 dan diperkirakan berakhir dalam 10 tahun ke depan. Tidak hanya talenta domestik, diaspora yang berperan penting di berbagai negara juga jarang dibahas.
Database KPU menunjukkan data agregat WNI yang tercatat pada perwakilan RI di luar negeri pada tahun 2024 sebanyak 4.694.484 orang. Di Amerika Serikat, terdapat 117.085 orang Indonesia yang tersebar di Washington, Chicago, Houston, Los Angeles, New York, dan San Francisco. Kementerian Luar Negeri mencatat sebanyak 2.544.062 orang, dengan 51,97% berada di Malaysia (2024). Adapun Pew Research Center mencatat 145 ribu orang Indonesia tinggal di Amerika Serikat (2023). Yang terbesar ialah India dan Tiongkok (masing-masing + 3 juta orang), diikuti Filipina, Vietnam, dan Korea.
Jumlah penduduk Indonesia yang saat ini belajar di luar negeri mencapai 60 ribu. Australia menjadi tujuan utama, diikuti oleh Malaysia dan Amerika Serikat. Di Amerika Serikat sendiri, dari 1,13 juta mahasiswa asing, India mengirim 313 ribu mahasiswa, diikuti Tiongkok dengan 277 ribu; sedangkan Indonesia mengirim 8.348 mahasiswa (Institute of International Education, 2024). Data ini menunjukkan jumlah yang relatif rendah jika dibandingkan dengan negara Asia lain yang beraktivitas di luar negeri.
PORTOFOLIO TALENTA
Ekonom Harbison dan Myers (1965) menyatakan bahwa kekayaan suatu negara bergantung pada kemampuan mengembangkan talenta dan memanfaatkannya secara efektif. Dalam tulisan ini, talenta tidak hanya merepresentasikan human capital (berpengetahuan, berketerampilan, dan berpengalaman), tetapi juga social capital (jejaring sosial dan profesional yang dimiliki individu). Tidak hanya lokal, nasional, dan transnasional seiring globalisasi di era digital.
Pemahaman ini menarik untuk dicermati ketika banyaknya talenta sebuah bangsa yang berkarya di luar negeri dalam kurun waktu tertentu dianggap sebagai brain drain. Dampak negatif yang dialami sebuah negara ketika talenta-talenta terbaiknya migrasi keluar, terutama ke negara-negara yang lebih maju. Namun, dampak positif yang dialami oleh India atau Tiongkok menunjukkan hal yang sebaliknya. Seiring waktu, social capital yang dimiliki diaspora mampu menghubungkan dan menjadi pengungkit pertumbuhan industri-industri baru di sektor teknologi—brain gain. Meskipun tidak dapat berkontribusi secara fisik di negara asalnya, social capital yang mereka miliki dapat menghubungkan mereka dengan jejaring talenta dan pebisnis global.
Sosiolog Stanford, Gi-Wook Shin, dalam bukunya The Four Talent Giants (2025) menjelaskan fenomena di atas menggunakan talent portfolio theory. Meminjam logika dari bidang keuangan untuk memiliki portofolio investasi dengan hasil yang maksimal dan risiko yang minimal, Prof Shin mengaplikasikannya dalam mengelola talenta bangsa. Teori yang diajukannya menjelaskan bagaimana sebuah bangsa mengelola talenta melalui strategi 4B: brain train, brain gain, brain circulation, dan brain linkage.
BELAJAR DARI NEGARA LAIN
Brain train menunjukkan bagaimana sebuah bangsa mengembangkan SDM-nya tapi tetap terhubung dengan negara asal. Tidak hanya melalui pendidikan formal dan informal di dalam negeri, pemberian beasiswa ke luar negeri dengan mewajibkan penerimanya kembali ke dalam negeri juga menjadi bagian dari jenis investasi ini. Tentu ada kelemahannya, terutama ketinggalan tren pasar global dalam kolaborasi riset dan pendidikan. Jepang menjadi negara yang berhasil menerapkan strategi ini.
Brain gain menunjukkan upaya sebuah bangsa untuk menutupi kekurangan SDM dengan mendatangkannya dari negara lain. Tidak hanya secara langsung mengimpor SDM untuk langsung bekerja di domestiknya, tetapi juga secara tidak langsung melalui pelatihan bagi mahasiswa asing di perguruan tinggi lokal sebelum 'menggunakannya'. Negatifnya ialah sentimen anti-imigran, khususnya ketika imigran memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik daripada penduduk lokal. Australia atau Amerika dominan menggunakan strategi ini.
Brain circulation menunjukkan adanya sirkulasi talenta bangsa, dengan migrasi keluar untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, kemudian kembali masuk ke negara asal. Belajar atau bekerja di luar negeri dijalani dalam kurun waktu tertentu, kemudian kembali dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang lebih baik. Keunggulan inilah yang menjadikan kinerja bangsa secara agregat lebih baik melalui asimilasi dan transformasi pengetahuan dari negara lain. Risikonya, tentu kehilangan talenta terbaik yang tidak mau kembali ke negara asal. Tiongkok menjadi salah satu contoh sukses dalam penerapan strategi ini.
Brain linkage berupa talenta yang sudah lama bermigrasi dari negara asalnya, tapi masih berhubungan baik dengan talenta di negara asalnya. Untuk menjembatani talenta atau pebisnis global (social capital) demi pertumbuhan ekonomi di negara asal, mereka beberapa kali pulang dalam jangka pendek bersama talenta atau pebisnis global yang menyertainya. Kelemahannya sama dengan brain circulation: talenta terbaik tidak mau pulang. India menjadi contoh terbaik penggunaan strategi ini.
Mengacu pada teori investasi, diversifikasi dari keempat B tadi diperlukan untuk memberikan imbal hasil terbaik dengan resiko terendah (Shin, 2025). Diversifikasi dapat dilakukan antar-4B dan di dalam masing-masing B, serta penyeimbangan perlu dilakukan dari waktu ke waktu. Misalnya ketika pasokan talenta dari Tiongkok berkurang, Australia dapat menggantinya dengan talenta terbaik dari negara lain. Atau ketika pada dekade 1990-an Tiongkok mengedepankan brain circulation (brain drain), seiring membaiknya ekonomi domestik, brain gain mulai mendominasi kebijakan mereka, diiringi oleh brain train seiring dengan makin banyaknya sektor teknologi yang mereka pimpin, serta kualitas PT lokal yang berkelas dunia.
REKOMENDASI
Pengembangan talenta merupakan investasi strategis bangsa. Belajar dari negara-negara di atas, mereka secara aktif melakukan penyeimbangan dari waktu ke waktu. Strategi talenta nasional dengan internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi satu paket kebijakan.
Untuk brain train, meskipun target angka partisipasi kasar (APK) belum mencapai target di RPJMN, seyogianya kuantitas tidak menjadi target utama pemerintah. Meningkatkan relevansi pendidikan tinggi di dalam negeri dengan mendasarkan pada kajian global, misalnya Future of Jobs Report (World Economic Forum) atau Stanford Emerging Technology Review, dapat menjadi acuan bagi pimpinan PT lokal dalam mengembangkan dosen atau program studi demi menghasilkan lulusan yang siap untuk masa depan. Tentu, pengiriman mahasiswa penerima beasiswa LPDP ke bidang-bidang yang prospektif di masa depan di PT berkelas dunia adalah keniscayaan.
Melalui brain circulation, Indonesia dapat meniru Tiongkok yang membuat pusat inkubasi khusus bagi alumni luar negeri dengan beragam insentif pajak, serta akses pemodalan maupun laboratorium riset bersubsidi agar mereka pulang dan membangun startup sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Menghubungkan penerima beasiswa luar negeri dengan Danantara atau kawasan ekonomi khusus (KEK) dapat menjadi alternatif bagi mereka untuk berkarya bagi bangsa.
Indonesia juga dapat belajar dari India yang memanfaatkan diaspora besar di Silicon Valley untuk mengalirkan proyek outsourcing dan modal ke industri IT di Bangalore maupun Mumbai (brain linkage). Selain itu, platform talent cloud menjembatani komunikasi antara pebisnis pemula dan diaspora di luar negeri untuk berkonsultasi maupun melakukan transfer teknologi. Memfasilitasi talenta-talenta terbaik untuk berkarya di luar negeri sekaligus membangun jejaring profesional dalam kurun waktu tertentu akan memberikan dampak yang lebih besar di masa mendatang.
Untuk brain gain, tim nasional sepak bola kita sudah mulai melakukannya, dan bisa diadopsi untuk industri kita. Tawaran golden visa bagi ilmuwan dengan kompetensi spesifik yang dibutuhkan Indonesia dapat menjadi pilihan. Atau melonggarkan izin kerja tenaga ahli asing di industri strategis dengan syarat mentransfer pengetahuan (shadowing program) kepada 3-5 talenta lokal dalam 2 tahun kerja dapat menjadi pilihan.
Penggunaan strategi mana yang dominan dalam mengelola portofolio talenta bangsa perlu diseimbangkan dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Mengingat investasi SDM membutuhkan waktu lama untuk memberikan hasil, dibutuhkan konsistensi kebijakan hingga hasil yang diharapkan mulai terlihat dalam tahapan-tahapan mewujudkan Indonesia Emas 2045.















































