Jutaan warga Iran banjiri "Pemakaman Abad Ini" untuk Ali Khamenei. Namun, ketidakhadiran sang putra mahkota, Mojtaba Khamenei, memicu spekulasi besar.(AFP)
PROSESI pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, resmi dimulai pada Minggu waktu setempat. Namun, perhatian publik justru tersedot oleh ketidakhadiran putra mahkotanya, Mojtaba Khamenei, di tengah prosesi yang dihadiri ribuan pelayat dan pejabat tinggi rezim tersebut.
Sementara tiga putra Khamenei lainnya, Masoud, Mostafa, dan Meysam, tampak hadir mendampingi Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Garda Revolusi Ahmad Vahidi, absennya Mojtaba memicu spekulasi liar. Rumor yang beredar menyebutkan Mojtaba terluka dalam serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya pada Februari lalu. Ia bahkan belum pernah terlihat lagi di publik sejak ditunjuk memimpin pada awal Maret.
Otoritas Iran memperkirakan sekitar 12 hingga 20 juta orang akan menghadiri rangkaian prosesi yang dijuluki sebagai "Pemakaman Abad Ini". Rangkaian acara dijadwalkan berlangsung selama sepekan di berbagai wilayah Iran dan Irak. Saat ini, jenazah Khamenei disemayamkan di Kompleks Relijius Grand Mosalla, Tehran, dengan doa yang dipimpin oleh ulama terkemuka Syiah, Jafar Sobhani.
Ketidakhadiran Mojtaba terjadi di tengah kekhawatiran bahwa dirinya menjadi target pembunuhan berikutnya oleh Israel. Saat ini, gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara masih bertahan seiring berlangsungnya negosiasi perdamaian.
Terkait situasi ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyatakan bahwa pembicaraan damai sempat ditunda selama sepekan untuk menghormati masa berkabung. Trump secara blak-blakan berkelakar bahwa Washington bisa saja menghabisi seluruh pejabat senior Iran yang berkumpul dalam satu serangan.
"Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena jika dilakukan, kami tidak akan memiliki siapa pun lagi untuk diajak bernegosiasi," ujar Trump dikutip dari Axios.
Trump juga mengaku terkejut melihat banyaknya warga Iran yang menangis, sembari melontarkan dugaan bahwa air mata tersebut mungkin saja palsu. Pernyataan ini langsung memicu reaksi emosional dari para pelayat.
"Kami tidak melakukan revolusi 47 tahun lalu untuk meneteskan air mata palsu. Kami tidak mengorbankan semua martir ini untuk meneteskan air mata palsu," tegas Zahra Safaei, 50, seorang pelayat.
Sentimen anti-Barat pun menggema kuat di lokasi pemakaman. Massa pembawa spanduk terdengar meneriakkan slogan "Mati untuk Amerika" dan "Mati untuk Israel," serta seruan untuk membalas dendam kepada Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Hingga hari Minggu, kantor berita resmi IRNA melaporkan lebih dari 4.000 orang telah mendapat perawatan medis di sekitar lokasi akibat padatnya massa, meski belum ada laporan korban jiwa. Setelah prosesi di Tehran selesai pada Senin, peti mati Khamenei akan dibawa ke Qom pada Selasa, dilanjutkan ke situs suci Syiah di Irak pada Rabu, sebelum akhirnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis mendatang. (BBC/Z-2)















































