Jelang Muktamar NU di Jombang, KH Asep Saifuddin Chalim Kritik Keras: NU Seolah Dikendalikan Oknum Muda

4 days ago 3
 NU Seolah Dikendalikan Oknum Muda penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syachona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).(Antara)

MENDEKATI Muktmar Nahdlatul Ulama di Jombang, kritik keras datang dari Pengurus Pusat Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim yang menilai Nahdlatul Ulama seolah dikendalikan oleh oknum-oknum muda yang bergerak berdasarkan kehendak pribadi semata. Hal itu dikatakan saat menjadi narasumber pada Dialog Publik bertajuk "Transformasi dan Reorientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II" di Aula JKSN Surabaya, Rabu (12/8), yang terselenggara atas kerja sama Jurnalis Pokja Grahadi.

Agenda strategis ini dilaksanakan menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang direncanakan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada akhir Agustus 2026. 

Ketua Umum JKSN ini menilai Muktamar NU mendatang harus menjadi momentum penting untuk mengembalikan kepemimpinan organisasi pada khittah aslinya.

Kiai Asep juga mengungkapkan rasa keprihatinannya atas dinamika internal NU dalam beberapa periode terakhir. Menurutnya, tiga pelaksanaan Muktamar terdahulu dinilai telah mencederai marwah organisasi akibat praktik penataan kepemimpinan yang kurang berintegritas.

"Hari ini menjadi keprihatinan kita bersama. Dalam tiga kali Muktamar terakhir, Nahdlatul Ulama seolah dikendalikan oleh oknum-oknum muda yang bergerak berdasarkan kehendak pribadi semata. Banyak kezaliman yang terjadi," tegas KH. Asep.

Atas dasar itulah, ia mendesak perlunya transformasi total dan reorientasi kepemimpinan agar organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini kembali dipimpin oleh figur-figur yang memiliki kearifan, integritas tinggi, dan keberpihakan pada nilai dasar NU.

Pesantren sebagai Akar Perjuangan NU

Dalam pemaparannya, KH. Asep mengajak para hadirin untuk menengok kembali sejarah panjang berdirinya NU yang tidak terlepas dari simpul perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara, bahkan jauh sebelum lahirnya Boedi Oetomo. Sebagai contoh, Ponpes Tambakberas Jombang diperkirakan telah berdiri dan mengabdi selama hampir dua abad.

Lembaga pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan kesadaran akan kemerdekaan dan penolakan terhadap perbudakan serta mengalami transformasi gerakan.

Awalnya, perlawanan para kiai bergerak secara parsial sehingga mudah dipatahkan. Menyadari hal tersebut, para ulama seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Alwi, KH. Ridwan Abdullah, KH. Abdul Chalim, KH. Mas Nawawi Sidogiri, dan KH. Zubair sepakat membentuk wadah pergerakan terorganisir.

Konsolidasi tersebut diawali dengan pendirian Nahdlatul Wathan pada tahun 1916 di Surabaya, yang mendidik 65 kader muda pilihan (putra kiai dan tokoh).

Para santri ini digembleng oleh ulama lulusan Mekah dan Mesir serta dibakar semangatnya melalui mars pergerakan Ya Lal Wathan, yang kini menjadi himne resmi NU.

Kembali ke Tujuan Awal Pendirian

Perjuangan tersebut berlanjut hingga pembentukan Komite Hijaz sebagai diplomasi internasional ulama Nusantara Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), serta penunjukan KH. Hasyim Asy'arisebagai Rais Akbar PBNU pertama untuk memimpin gerakan besar ini.

Puncaknya, kekuatan jaringan pesantren ini terbukti ampuh dalam mempertahankan kemerdekaan melalui pengerahan massa pada peristiwa Resolusi Jihad.

Kiai Asep mengingatkan bahwa NU didirikan di atas dua pilar utama. Yaitu Pilar Kebangsaan yang bertujuan menjaga kesatuan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kedua, Pilar Keagamaan dengan tujuan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang inklusif, moderat, dan rahmatan lil 'alamin.

"Regenerasi kepemimpinan melalui Muktamar seharusnya menjaga amanah sejarah tersebut. Oleh karena itu, penyimpangan, kecurangan, dan kezaliman dalam proses berorganisasi harus dihentikan demi menjaga kejayaan NU di abad kedua," katanya.(FL/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |