ilustrasi(Antara)
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan bahwa kabut asap tebal menyelimuti Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang menurun drastis hingga hanya tersisa sekitar 2 kilometer dengan kualitas udara yang masuk dalam kategori berbahaya.
Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati, menjelaskan bahwa penurunan jarak pandang ini terpantau berdasarkan pembaruan data sejak Senin (24/8) pukul 16.00 WIB. Selain Pekanbaru, sejumlah wilayah lain di Riau juga terdampak kabut asap dengan jarak pandang terbatas.
Data Jarak Pandang di Wilayah Riau:
- Kota Pekanbaru: 2 km (Asap)
- Rengat: 2 km (Asap)
- Tambang: 3 km (Asap)
- Pelalawan: 5 km (Asap)
Ranti menambahkan, konsentrasi polutan PM 2,5 di Kota Pekanbaru telah menyentuh level berbahaya sejak Selasa dini hari. Angka polusi sempat melonjak hingga 508,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 01.00 WIB, jauh di atas ambang batas sehat.
Lonjakan Titik Panas di Sumatera
Berdasarkan pantauan BMKG pada Senin (24/8), jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera mencapai 2.193 titik. Provinsi Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbanyak dengan .1207 titik, disusul oleh Provinsi Riau dengan 393 titik.
Sebaran titik panas lainnya di Sumatera meliputi:
- Jambi: 262 titik
- Lampung: 138 titik
- Bangka Belitung: 77 titik
- Kepulauan Riau: 57 titik
- Bengkulu: 19 titik
- Sumatera Utara: 18 titik
- Sumatera Barat: 13 titik
- Aceh: 9 titik
Kondisi Karhutla di Riau
Khusus di Provinsi Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak yakni 153 titik, diikuti Inderagiri Hilir dengan 140 titik. Wilayah lain seperti Bengkalis mencatat 32 titik, Inderagiri Hulu 26 titik, Kampar 12 titik, serta beberapa titik lainnya tersebar di Siak, Rokan Hulu, Kepulauan Meranti, Pekanbaru, dan Kuantan Singingi.
Kebakaran lahan masih terus berlangsung di beberapa titik di Riau. Luasan kebakaran terbesar saat ini berada di Kabupaten Pelalawan yang mencapai 700 hektare, disusul Inderagiri Hulu seluas 471 hektare, serta puluhan hektare lainnya di Inderagiri Hilir dan Kampar. (Ant/E-3)













































