Jakarta, CNBC Indonesia - Tak hanya mengeluhkan semakin padatnya KRL Commuter Line lintas Tanah Abang-Rangkasbitung, penumpang rutin juga mengeluhkan armada KRL yang dinilai sudah sangat tua, sehingga mempengaruhi perjalanan KRL lintas tersebut.
KRL yang sudah tua tersebut membuat pendingin Udara di dalamnya kerap membuat tidak nyaman penumpang. Ketika rangkaian sudah sangat padat, penumpang semakin tidak nyaman karena kualitas Udara di dalam KRL tidak baik. Bahkan, ada beberapa armada KRL yang dioperasikan di jalur tersebut pun hanya mengandalkan pendingin Udara dan kipas.
Salah satunya diungkap oleh Syami, pengguna KRL harian di jalur tersebut, di mana Ia mengeluhkan penumpang semakin padat, tetapi kereta yang beroperasi masih menggunakan stamformasi 10 kereta atau SF 10. Padahal, jalur ini terbilang sangat jauh, di mana untuk perjalanan penuhnya ditempuh hingga 2 jam lebih, itupun dalam kondisi normal dan bukan pada jam-jam sibuk.
"Kalau hari kerja, pas pagi-pagi, bagaimana orang-orang mau keangkut, misal kereta pertama tiba di stasiun mana gitu, sudah penuh, orang-orang yang mau masuk enggak bisa donk, sudah penuh, mau naik yang belakangnya, juga justru sama saja, karena headwaynya enggak rapat, alhasil berkali-kali kereta lewat, baru kesekian bisa masuk," kata Syami kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/3/2026).
Bahkan, dirinya pun merasa iri dengan jalur lain, terutama Bekasi dan Bogor yang sudah banyak menggunakan SF 12. Tak hanya itu saja, kedua jalur tersebut juga sudah menggunakan KRL baru.
"Agak iri juga sih, ini jalur menjadi yang paling jauh, sudah gitu salah satu paling banyak penumpangnya, tapi masih dilayani 10 gerbong. Sedangkan Bekasi atau Cikarang saja dah, paling ya sejam, tapi sudah banyak 12 gerbong, kalau Bogor kan masih ada yang 8 gerbong, tapi juga sudah banyak yang 12 gerbong," lanjutnya.
Foto: Penumpang menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Jatake, Kabupaten Tangerang, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Penumpang menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Jatake, Kabupaten Tangerang, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Senada dengan Syami, Okta, penumpang rutin lainnya, juga mengaku terbatasnya kapasitas membuat banyak penumpang sulit terangkut, terutama di Stasiun Jurangmangu, karena dirinya naik KRL dari stasiun tersebut.
"Ampun deh kalo pagi-pagi hari kerja dari Jurangmangu ke Tanah Abang, 2 sampai 3 kali KRL lewat baru bisa keangkut, itupun masih desak-desakan di dalam. Pengalaman naik KRL di jam 07:00-08:00 WIB," kata Okto.
Ia pun berharap kapasitas KRL bisa ditambah, dengan mengoperasikan KRL SF 12 di jalur tersebut. Selain itu, Ia juga berharap prasarana bisa lebih ditingkatkan seperti persinyalan, penambahan daya listrik, dan merubah perlintasan sebidang menjadi non-sebidang seperti flyover atau underpass.
"Harapannya sih upgrade persinyalan agar headway bisa rapat seperti jalur Bogor, lalu ditambah daya listriknya, nanti bisa disusul pengoperasian KRL SF12, terakhir bangun perlintasan tidak sebidang (flyover/underpass) di perlintasan yang volume kendaraannya tinggi," tambahnya.
Sementara itu, Noval, pengguna rutin lainnya yang naik dari Stasiun Sudimara, mengaku antrian penumpang yang ingin masuk ke dalam KRL bisa mencapai 4-5 baris di jam sibuk sekitar pukul 07:00 hingga 08:00 WIB. Hal ini menandakan penumpang baru bisa masuk tiga KRL berikutnya dan mereka harus menunggu lebih dari 15 menit.
"Emang kalo sehari-hari, apalagi yang naik dari Sudimara, ya digencet dan menggencet biar bisa masuk. Kalau enggak bisa masuk, antrian di peronnya bisa sampai 4-5 baris, kebayang kan bagaimana," kata Noval.
Seperti halnya penumpang rutin KRL Tanah Abang-Rangkasbitung lainnya, Ia berharap kapasitas rangkaian bisa ditingkatkan lagi, dengan mengoperasikan KRL SF 12.
"Ya kapasitas listriknya ditingkatin lagi, biar KRL SF 12 bisa beroperasi, persinyalan juga diganti jadi blok terbuka, biar KRL belakangnya enggak harus nunggu KRL di depannya jauh," terangnya.
Atas keluhan tersebut, PT KAI Commuter sejatinya telah mengujicobakan KRL SF 12 di lintas Rangkasbitung beberapa kali. Corporate Secretary Vice President KAI Commuter, Karina Amanda mengungkapkan telah mengujicoba KRL SF 12 menggunakan seri JR 205 yakni pada 28 Februari 2026. Ujicoba ini dilakukan guna mengetahui kehandalan dan kendala-kendala di lintasan.
"Belum lama ini, KAI Commuter melakukan ujicoba perjalanan KRL dengan SF 12 pada lintas Rangkasbitung sebagai bentuk komitmen kami untuk menambah kapasitas rangkaian," kata Karina kepada CNBC Indonesia
Sayangnya, KAI Commuter belum dapat mengoperasikan KRL tersebut di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung karena beberapa alasan, di mana salah satunya yakni kapasitas gardu untuk mensuplai listrik ke listrik aliran atas (LAA) masih belum cukup.
"Kendala kapasitas prasarana yaitu daya listrik aliran atas (LAA) dan peron yang belum dapat menampung KRL SF 12 turut menjadi penyebab pengoperasian KRL belum optimal," tambahnya.
Hal inilah yang juga membuat KRL baru belum dapat beroperasi di jalur tersebut. Apalagi, KRL baru menggunakan SF 12 dan membutuhkan daya listrik yang cukup besar dalam beroperasi.
"Karena menyesuaikan kondisi prasarana layanan di lintas tersebut, salah satunya daya Listrik Aliran Atas, dan panjang peron yang belum semua bisa melayani untuk KRL SF12," bebernya.
Saat ini, KRL baru sudah beroperasi sebanyak 16 trainset di jalur Jakarta Kota-Bogor dan Bekasi/Cikarang-Kampung Bandan. Rincian yang sudah beroperasi yakni 11 trainset KRL baru dari China dan 5 trainset KRL baru buatan PT INKA (Persero).
KAI Commuter juga terus berupaya agar prasarana di jalur tersebut bisa diperbarui, sehingga headway dan kapasitas KRL bisa bertambah dan dapat mengurangi penumpukan penumpang.
"Selain itu, dengan menjaga headways perjalanan pada jam sibuk, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah dan KAI untuk pengembangannya," pungkasnya.
Sebagai informasi, di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung, KAI Commuter menambah dua perjalanan tambahan, sehingga total perjalanan menjadi 206, dari sebelumnya pada 2025 sebanyak 204 perjalanan.
"Kami sudah menambahkan 2 perjalanan tambahan di jam-jam sibuk, yang sebelumnya 204 perjalanan di 2025, menjadi 206 perjalanan pada tahun ini," ujar Karina.
(chd/wur)
Addsource on Google

16 hours ago
2
















































