REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada masa ketika seseorang telah berdoa, belajar, dan berusaha, tetapi jalan di hadapannya masih tampak berkabut. Ia ingin memperoleh kepastian sebelum melangkah, sedangkan kepastian itu justru sering datang setelah langkah pertama diambil.
Penutup Surah Al-Ankabut menghadirkan janji yang menenteramkan: kesungguhan yang diarahkan kepada Allah tidak akan dibiarkan tersesat tanpa petunjuk. Ayat ini bukan janji bahwa setiap keinginan pasti terpenuhi sesuai rancangan manusia, melainkan jaminan bahwa orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan-Nya akan dituntun menuju jalan yang benar.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Wallażīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama‘al-muḥsinīn.
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh demi mencari keridaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
Pengerahan Kemampuan
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa frasa “orang-orang yang berjihad pada jalan Kami” mencakup Rasulullah SAW, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat. Kata jāhadū di sini menunjukkan pengerahan kemampuan dan kesungguhan demi Allah, bukan usaha yang diarahkan untuk memenuhi kesombongan, ambisi pribadi, atau memperoleh pujian manusia.
Ada perbedaan besar antara bersungguh-sungguh karena Allah dan sekadar bekerja keras. Seseorang dapat bekerja tanpa mengenal lelah, tetapi apabila seluruh tujuannya hanya kehormatan diri, kekuasaan, atau pengakuan, kesungguhannya belum tentu termasuk dalam makna “fīnā”, demi Kami, yang disebutkan ayat tersebut.
Kesungguhan dalam ayat ini harus memiliki arah. Seorang hamba berjuang untuk mempertahankan iman, mempelajari kebenaran, mengamalkan ilmu, meninggalkan larangan, memperbaiki akhlak, menunaikan amanah, dan melawan dorongan diri yang menjauhkannya dari keridaan Allah. Dengan demikian, jihad dalam ayat tidak selayaknya otomatis dipersempit hanya menjadi pertempuran bersenjata. Makna dasarnya ialah mengerahkan kemampuan dalam jalan ketaatan dan mencari keridaan-Nya.
Ibnu Katsir kemudian menerangkan frasa “Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” dengan makna bahwa Allah akan memperlihatkan kepada mereka jalan-jalan-Nya di dunia dan di akhirat. Kata subulanā berbentuk jamak, “jalan-jalan Kami”, memberikan ruang makna yang luas. Petunjuk Allah dapat hadir dalam bentuk kemampuan membedakan yang benar dan keliru, keteguhan menjalankan kebaikan, jalan keluar dari kebingungan, pertemuan dengan guru yang baik, terbukanya ilmu, atau kekuatan untuk meninggalkan sesuatu yang selama ini mengikat hati.
Petunjuk itu tidak selalu berarti hidup menjadi mudah. Terkadang Allah menunjukkan jalan yang benar justru melalui keputusan yang berat. Ada pekerjaan yang harus ditinggalkan karena tidak halal, hubungan yang perlu dijaga batasnya, kesalahan yang harus diakui, atau kebiasaan yang mesti dilawan berulang kali. Jalannya mungkin menanjak, tetapi arahnya menjadi jelas.
Ibnu Katsir juga menukil sebuah riwayat melalui Ibnu Abi Hatim dari Al-Abbas al-Hamdani. Menurut riwayat tersebut, orang yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya akan diberi petunjuk kepada pengetahuan yang sebelumnya belum ia ketahui. Perkataan ini bukan hadis Nabi SAW, melainkan penjelasan seorang ulama yang dikutip dalam rangka menafsirkan ayat.

3 hours ago
9













































