Prof El-Awaisi: Israel Proyek Kolonial Barat yang Disiapkan 148 Tahun

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar kajian Baitul Maqdis, Prof Abdul Fattah el-Awaisi mengatakan, berdirinya Israel merupakan hasil proyek kolonial Barat yang dipersiapkan melalui perencanaan jangka panjang sejak sekitar 148 tahun sebelum negara itu berdiri. Karena itu, menurut dia, pembebasan Masjid Al-Aqsa juga harus dibangun melalui strategi jangka panjang yang diawali dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

El-Awaisi mengatakan kesimpulan tersebut diperolehnya setelah puluhan tahun meneliti ribuan dokumen arsip Inggris di Kew Gardens, London. Ia mengaku menghabiskan waktu bertahun-tahun menelusuri dokumen-dokumen rahasia yang telah dibuka kepada publik.

"Saya menghabiskan bertahun-tahun memeriksa dokumen-dokumen rahasia yang diterjemahkan Inggris. Mereka mulai memikirkan proyek Israel sekitar 148 tahun sebelum negara itu berdiri," ujar el-Awaisi dalam acara "Baitul Maqdis The Blueprint" yang digelar International Networking for Humanitarian (INH) di Auditorium RRI, Jakarta Pusat, Ahad (2/8/2026).

Menurut dia, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Israel tidak dimulai dengan kekuatan militer, melainkan melalui riset, produksi pengetahuan, dan penyusunan strategi kolonial.

"Mereka membangun pengetahuan terlebih dahulu sebelum mengirim militer. Sayangnya, kekuatan kolonial mengikuti sunnatullah itu, sementara umat Islam justru sering mengabaikannya," ujarnya.

Ia menuturkan, dalam arsip yang dipelajarinya, wilayah yang kemudian menjadi Israel disebut sebagai "buffer state" atau negara penyangga. Menurutnya, proyek tersebut memiliki sejumlah tujuan strategis.

Tujuan pertama, kata dia, adalah memecah belah bangsa Arab dan umat Islam. Kedua, membentuk negara-negara buatan di kawasan Arab yang berfungsi melindungi keberlangsungan negara penyangga tersebut.

"Semua itu tertulis dalam dokumen. Ini bukan rahasia, tetapi banyak orang tidak membacanya," katanya.

Selain itu, lanjut el-Awaisi, proyek tersebut juga bertujuan mengendalikan kekayaan kawasan Arab demi kepentingan negara-negara Barat, mencegah lahirnya persatuan di dunia Arab dalam bentuk apa pun, serta menghalangi munculnya kebangkitan Islam di kawasan tersebut.

"Tujuan-tujuan itu masih relevan hingga hari ini. Ketika membaca dokumen-dokumen tersebut, saya selalu merasa sedih karena mereka merencanakan semuanya secara sistematis, sementara umat Islam justru sedang 'berlibur' dari sisi pemikiran," ujarnya.

Karena itu, el-Awaisi menilai perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsa tidak cukup hanya mengandalkan semangat ataupun aksi militer. Ia menegaskan, Rasulullah SAW justru memulai perubahan melalui pembangunan ilmu pengetahuan.

"Perintah pertama Allah adalah membaca. Rasulullah tidak memulai dengan militer, tetapi dengan ilmu. Dari ilmu lahir pemikiran strategis, kemudian perencanaan strategis," katanya.

Ia menambahkan Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat penting untuk memimpin gerakan persiapan ilmu tersebut. Menurut dia, dibandingkan banyak negara Arab yang menghadapi berbagai keterbatasan politik, Indonesia memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kajian Baitul Maqdis secara akademik.

"Indonesia adalah negara yang paling mampu memimpin persiapan ilmu pengetahuan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa pada abad ke-21. Yang saya maksud bukan persiapan militer atau politik, melainkan persiapan ilmu," ujar el-Awaisi.

Ia pun mengajak umat Islam mulai membangun tradisi membaca, riset, dan pengembangan ilmu sebagai fondasi perjuangan jangka panjang.

"Kalau mereka bisa menyiapkan sebuah proyek selama 148 tahun melalui ilmu pengetahuan, maka umat Islam juga harus mulai membangun proyek peradabannya melalui ilmu," kata el-Awaisi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |