Muhammad Rafi Yasykur
Trend | 2026-07-02 00:05:07
potret ketimpangan belajar di kota dan di daerah terpencil
Pendidikan selalu ditempatkan sebagai kunci pembangunan bangsa. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup dan meningkatkan posisi sosial ekonominya. Karena itu, kualitas pendidikan suatu negara sering kali menjadi cerminan kualitas masa depannya.
Indonesia sebenarnya telah menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam sektor pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) kelompok usia 7–12 tahun pada tahun 2024 telah mencapai 99,19 persen, sementara kelompok usia 13–15 tahun mencapai 96,17 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa program wajib belajar pada jenjang pendidikan dasar relatif berhasil menjangkau sebagian besar anak Indonesia.
Namun, persoalan mulai terlihat ketika memasuki jenjang pendidikan menengah atas. APS kelompok usia 16–18 tahun hanya mencapai 74,64 persen, sedangkan pada kelompok usia 19–23 tahun yang merupakan usia pendidikan tinggi hanya berada pada angka 29,01 persen. Artinya, masih terdapat cukup banyak anak muda Indonesia yang tidak melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama.
Angka tersebut menunjukkan bahwa akses pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama. Tidak sedikit peserta didik yang memilih memasuki dunia kerja lebih awal untuk membantu kebutuhan keluarga dibandingkan melanjutkan pendidikan. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kondisi ini memperlihatkan bahwa latar belakang sosial ekonomi masih sangat menentukan peluang seseorang dalam memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Padahal, pendidikan memiliki fungsi penting sebagai sarana mobilitas sosial. Melalui pendidikan, seseorang memiliki kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera. Ketika akses pendidikan tidak merata, maka peluang mobilitas sosial juga menjadi tidak seimbang. Akibatnya, ketimpangan sosial berpotensi terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat seharusnya dapat membantu mengurangi kesenjangan tersebut. Pemanfaatan platform pembelajaran digital, sumber belajar daring, hingga teknologi kecerdasan buatan memberikan peluang baru bagi peserta didik untuk memperoleh akses pengetahuan yang lebih luas. Akan tetapi, transformasi digital juga menghadirkan tantangan berupa kesenjangan akses terhadap perangkat teknologi dan internet, khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil maupun keluarga berpenghasilan rendah.
Selain persoalan akses, kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial peserta didik. Dukungan keluarga, budaya belajar, kondisi ekonomi rumah tangga, hingga kualitas lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh besar terhadap prestasi belajar anak. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari pembangunan sekolah atau penyediaan kurikulum semata, tetapi juga dari kemampuan negara menciptakan kondisi sosial yang mendukung proses belajar.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, guru tetap menjadi aktor utama dalam pendidikan Indonesia. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, serta membangun harapan peserta didik terhadap masa depan mereka. Banyak guru di berbagai daerah tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi meskipun menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.
Pemerintah sendiri terus meningkatkan investasi pada sektor pendidikan. Anggaran pendidikan nasional terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir sebagai bentuk komitmen negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, peningkatan anggaran tentu perlu diikuti dengan kebijakan yang tepat sasaran, terutama dalam upaya pemerataan kualitas pendidikan antarwilayah dan kelompok masyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya urusan sekolah dan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Keluarga, lingkungan sosial, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga media memiliki peran dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan inklusif.
Indonesia sedang menuju bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada beberapa dekade mendatang. Bonus demografi dapat menjadi peluang besar apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, tetapi dapat pula berubah menjadi beban apabila kualitas pendidikan tidak mampu menjawab kebutuhan zaman. Oleh karena itu, memperjuangkan pendidikan yang adil dan merata bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan bangsa.
Masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dibentuk di ruang-ruang kelas hari ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah pendidikan penting, melainkan seberapa serius kita memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

13 hours ago
9















































