Kisah Minyak Iran: Kekaisaran Persia, Kudeta - Perebutan Kuasa Dunia

6 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

12 March 2026 03:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Minyak di Iran memiliki riwayat jauh lebih tua daripada industri energi modern.

Melansir dari Journal of Petroleum Geology edisi Januari 2024, praktik pengambilan minyak sudah tercatat pada masa Kekaisaran Achaemenid. Catatan Glance pada 1970 menyebut sebuah sumur minyak buatan manusia digali di kota kuno Susa sekitar 500 SM pada masa pemerintahan Darius I.

Sejarawan Yunani Herodotus pada abad ke-5 SM juga menulis aktivitas produksi minyak di wilayah Ardericca, lokasi yang diyakini berada di sekitar Masjed Soleyman saat ini.

Pada masa itu minyak muncul dalam bentuk bitumen alami. Penelitian Rasoul Sorkhabi yang dirangkum dalam jurnal tersebut mengisahkan, bahan ini dipakai untuk konstruksi bangunan dan pelapisan kapal agar kedap air. Minyak dalam bentuk rembesan tanah sudah dikenal masyarakat setempat selama berabad-abad sebelum teknologi pengeboran modern berkembang di Eropa.

Memasuki akhir abad ke-19, perhatian terhadap minyak Persia meningkat. Kemajuan teknologi pengeboran membuat perusahaan Eropa mulai menilai wilayah Persia memiliki potensi energi besar. Upaya awal dilakukan oleh Baron Julius de Reuter pada 1870-an. Dua percobaan pencarian minyak yang ia lakukan tidak menghasilkan temuan komersial.

Momentum baru muncul pada 1901 ketika Shah Moẓaffar od-Dīn dari Dinasti Qajar menjual hak eksplorasi minyak kepada pengusaha Inggris William Knox D'Arcy. Konsesi tersebut memberi D'Arcy hak eksplorasi minyak, gas, dan aspal di hampir seluruh wilayah Persia selama 60 tahun.

Sebagai imbalannya, pemerintah Persia memperoleh pembayaran tunai serta bagian keuntungan sebesar 16% dari pendapatan minyak.

Eksplorasi awal berlangsung penuh hambatan. Melansir dari sumber yang sama, pengeboran antara 1901 hingga 1905 berlangsung tanpa hasil. Kondisi cuaca ekstrem, medan berat, serta keterbatasan tenaga ahli menghambat operasi. Ketika modal hampir habis, D'Arcy menandatangani kesepakatan pembiayaan dengan Burmah Oil Company agar proyek eksplorasi tetap berjalan.

Perubahan besar terjadi pada 26 Mei 1908. Pada pukul sekitar 16.00 waktu setempat, minyak menyembur dari sumur pengeboran di Masjed Soleyman dengan ketinggian mencapai sekitar 50 kaki di atas rig. Temuan tersebut menjadi penemuan minyak komersial pertama di Timur Tengah dan segera menarik perhatian pemerintah Inggris.

Setahun setelah penemuan itu, Anglo-Persian Oil Company berdiri pada 1909. Produksi mulai berkembang cepat. Melansir dari sumber yang sama, ekspor minyak dimulai pada 1912 dan sekitar 30 sumur telah beroperasi di Masjed Soleyman pada 1914. Pada periode ini pemerintah Inggris membeli saham mayoritas perusahaan dan menjadikan minyak Persia sebagai sumber energi strategis bagi armada lautnya.

Keterkaitan minyak dan geopolitik mulai terlihat sejak Perang Dunia I.  Inggris dan Rusia menempatkan pasukan di Persia untuk melindungi kepentingan energi mereka. Minyak menjadi faktor penting dalam strategi militer. George Nathaniel Curzon bahkan menyatakan kemenangan perang di laut sangat bergantung pada pasokan minyak.

Ketegangan politik terkait minyak terus berlanjut sepanjang abad ke-20. Melansir dari Journal of Petroleum Geology, periode industri minyak modern Iran dapat dibagi ke dalam enam fase besar masa awal eksplorasi 1872-1900, era Anglo-Persian 1901-1932, fase Anglo-Iranian dan nasionalisasi 1933-1953, periode Pahlavi kedua 1954-1978 yang bertepatan dengan lahirnya OPEC, fase Revolusi Islam dan perang Iran-Irak 1979-1989, serta era kontrak buyback dan sanksi Amerika Serikat sejak 1990.

Salah satu titik konflik terbesar terjadi pada 1951 ketika Perdana Menteri Mohammad Mosaddeq mendorong nasionalisasi industri minyak, langkah tersebut memicu krisis politik yang berujung pada kudeta 1953 yang didukung badan intelijen Amerika Serikat dan Inggris. Setelah peristiwa itu, produksi minyak Iran dibagi antara konsorsium perusahaan Barat dengan porsi besar.

Kisah minyak Iran akhirnya berubah menjadi cerita panjang mengenai sumber daya, kekuasaan, dan kedaulatan ekonomi. Sejak penemuan Masjed Soleyman pada 1908 lebih dari 120 ladang minyak dan gas telah ditemukan di wilayah daratan Iran serta perairan Teluk Persia. Industri ini membuka era baru bagi perekonomian Iran sekaligus memicu pergolakan politik yang terus terasa hingga hari ini.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |