Komando Armada RI Jaga Tapal Batas Utara Nusantara

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah deburan ombak yang menghantam batas kedaulatan, pertahanan maritim Indonesia bukan sekadar soal barisan kapal perang yang megah, melainkan tentang keteguhan menjaga simbol eksistensi negara di wilayah terluar.

Kehadiran TNI Angkatan Laut di garda terdepan adalah manifestasi dari janji untuk melindungi setiap jengkal air dan tanah, memastikan bahwa kedaulatan bukan hanya kata-kata di atas peta, melainkan realitas yang dirasakan oleh para pelaut dan nelayan yang menggantungkan hidup di luasnya samudra.

Salah satu titik paling krusial dalam pertahanan ini adalah Suar Karang Unarang yang terletak di perairan Nunukan, Kalimantan Utara. Mercusuar ini berdiri tegak di atas gugusan karang yang hanya muncul saat air laut surut, tepat di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia di Blok Ambalat. Sebagai Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), suar ini memiliki nilai geopolitik yang sangat tinggi; ia bukan hanya pemandu kapal, melainkan "patok" kedaulatan yang menegaskan bahwa wilayah tersebut adalah milik sah Republik Indonesia.

Menyadari nilai strategis tersebut, Panglima Komando Armada RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, turun langsung melakukan peninjauan ke Suar Karang Unarang pada Jumat (16/1/2026). Di bawah terik matahari perbatasan, ia menegaskan bahwa pengamanan dan pemeliharaan sarana navigasi adalah kunci untuk mendukung keselamatan pelayaran internasional sekaligus menjaga stabilitas keamanan laut. "Koarmada RI memastikan kehadiran negara hadir secara nyata di wilayah perairan perbatasan," tegas Laksdya TNI Denih.

Sebagai ujung tombak dalam operasional ini, Komando Armada (Koarmada) TNI Angkatan Laut memegang peranan vital. Lembaga ini merupakan komando utama operasional dan pembinaan yang bertanggung jawab atas kekuatan maritim di seluruh wilayah perairan Indonesia, yang terbagi dalam tiga armada (Koarmada I, II, dan III). Dengan semboyan Ekadharma Jalesmahe, Koarmada bertugas menjaga keamanan laut dari ancaman kedaulatan hingga penegakan hukum di perairan nasional.

Namun, pengabdian Koarmada RI tidak hanya sebatas pada patroli senjata. Di sela-sela peninjauan di Karang Unarang, Pangkoarmada RI menyempatkan diri menyapa para nelayan lokal dan menyerahkan paket sembako. Langkah ini merupakan wujud kepedulian sosial untuk mempererat kemanunggalan TNI AL dengan rakyat, menyadari bahwa nelayan adalah mata dan telinga negara di beranda depan nusantara.

Sebelum menginjakkan kaki di Kalimantan Utara, Laksdya TNI Denih Hendrata juga menunjukkan sisi humanis TNI AL saat meninjau daerah terdampak banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, pada Rabu (14/1/2026). Pulau Siau sendiri merupakan daratan vulkanik eksotis yang didominasi oleh Gunung Karangetang, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Dikenal sebagai penghasil pala terbaik dunia, pulau ini memiliki medan berbukit yang sangat rawan terhadap bencana hidrometeorologi maupun aktivitas vulkanik.

Dalam operasi kemanusiaan tersebut, TNI AL mengerahkan kekuatan penuh dengan mengirimkan KRI Wahidin Sudirohusodo-991, KRI Ahmad Yani-351, dan KRI Selar-879. Kehadiran kapal-kapal perang ini bukan untuk bertempur, melainkan membawa bantuan logistik dan tenaga medis guna mempercepat pemulihan pascabencana. "Peninjauan ini untuk melihat langsung kerusakan dan kebutuhan mendesak masyarakat agar langkah tindak lanjut tepat dan terukur," ujar Kadispen Kodaeral VIII, Letkol Laut (P) Rudi Tandirerung.

Setibanya di Dermaga Ulu, rombongan disambut oleh Bupati Chyntia I. Kalangit beserta jajaran Forkopimda Sitaro. Sinergi antara otoritas pertahanan dan pemerintah daerah ini menjadi potret utuh bagaimana kekuatan maritim Indonesia bekerja: tegas dalam menjaga kedaulatan di Karang Unarang, namun lembut dan sigap dalam memberikan pertolongan kemanusiaan di Pulau Siau.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |