Komoditas Logam Mengamuk, Deretan Saham Ini Bisa Jadi Incaran!

1 hour ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

14 January 2026 11:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan lonjakan harga emas dan perak, saham yang bergerak di sektor metal mulai dari emas, perak, nikel, tembaga, dan aluminium jadi incaran pelaku pasar.

Pergerakan duo logam mulia yang kerap dijadikan aset safe haven sejak tahun lalu memang sudah ciamik. Perak memimpin dengan reli nyaris 200%, kemudian emas melejit sekitar 72%.

Sepanjang 2025 dan awal 2026, hargai emas dan perak  terus mencetak rekor lagi akibat tensi geopolitik yang memanas,  mulai dari perang di Timur Tengah hingga invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela. 

Selain itu, masih ada drama Chairman The Fed Jerome Powell-Presiden AS Donald Trump dan tarif yang masih berlanjut.

 Powell mengungkapkan dirinya tengah menjadi subjek penyelidikan kriminal oleh jaksa federal AS. Penyelidikan ini terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral AS di Washington DC senilai US$2,5 miliar (sekitar Rp39,5 triliun) serta kesaksiannya di hadapan Kongres.

Di sisi lain, Powell merasa ini hanya dalih untuk mengganggu independensi the Fed sebagai bank sentral negara.

Mahkamah Agung dijadwalkan mengumumkan keputusan penting terkait legalitas sebagian besar tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump.

Kasus ini mempertanyakan apakah Trump mempunyai kewenangan hukum untuk memberlakukan tarif secara luas menggunakan Undang-undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) tanpa persetujuan Kongres.

Sederet drama yang mayoritas karena ulah Trump ini membuat harga emas perak menguat, selain itu dalam sebulan terakhir harga metal lain juga terpantau naik. Nikel salah satu yang terkuat dengan reli double digit, diikuti tembaga dan aluminium yang naik hampir mirip sebesar 11%.

Selain faktor makro, dari sisi supply dan demand juga berpengaruh terhadap harga komoditas metal.

Terkhusus nikel, baru-baru ini Indonesia menjadi faktor paling krusial karena berencana menurunkan pasokan dari 390 juta menjadi 250 juta ton pada 2026, jika terealisasi ini bisa mengurangi 34% pasokan nasional.

Smelter pada tahun ini diperkirakan akan mengalami kekurangan bijih nikel, memicu harga produksi naik, sehingga hasil akhir akan menjadi lebih mahal.

Sementara itu aluminium dan tembaga mengalami kenaikan seiring semakin ketatnya pasokan global di tengah permintaan yang tetap kuat.

Aluminium terdorong oleh kebijakan China yang menahan ekspansi produksi untuk mencegah kelebihan kapasitas, turunnya ekspor, serta gangguan operasional smelter di sejumlah negara akibat tingginya biaya energi dan kendala bahan baku.

Adapun tembaga menguat karena gangguan produksi di negara produsen utama, antisipasi potensi tarif AS yang mengalihkan arus pasokan, serta permintaan struktural yang solid dari sektor kendaraan listrik, energi hijau, dan ekspansi pusat data berbasis AI.

Seiring dengan kenaikan harga komoditas metal, saham perusahaan metal mulai dair emas, perak, nikel, tembaga, alumunium, dan mineral lain menjadi cukup menarik.

Pasalnya, ketika harga komoditas naik, harga jual pun akan mengikuti. Misalnya, perusahaan nikel yang sudah lama mengalami oversupply dan harga murah, saat ini menjadi momentum untuk bangkit karena bisa jual di harga lebih mahal, efeknya profitabilitas diharapkan tumbuh positif.

Kami melihat beberapa pilihan saham komoditas yang bisa dimanfaatkan pelaku pasar untuk momentum trading:

Namun, perlu dicatat bahwa saham perusahaan komoditas bersifat siklikal. Kenaikannya umumnya tidak berlangsung lama karena pada akhirnya akan berdampak ke perekonomian secara keseluruhan. Komoditas merupakan bahan baku utama, sehingga jika harganya naik terlalu tinggi dan bertahan dalam waktu lama, biaya produksi akan meningkat dan berpotensi menekan aktivitas ekonomi riil.

Karena itu, sebagai pelaku pasar, momentum kenaikan harga komoditas sebaiknya dimanfaatkan secara taktis, baik untuk trading jangka menengah, merealisasikan sebagian keuntungan, maupun melakukan rotasi ke sektor lain ketika valuasi sudah mulai mahal. Disiplin dalam membaca siklus dan manajemen risiko menjadi kunci agar tidak terjebak euforia saat puncak siklus komoditas.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |