Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran membawa petaka besar di seluruh dunia, ditandai dengan melonjaknya harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz. Dampak signifikan sudah dirasakan Kamboja, negara tetangga Indonesia.
Laporan Channel News Asia menyebut sekitar sepertiga dari 6.300 SPBU di negara berpenduduk hampir 18 juta jiwa itu tutup pekan lalu karena ketidakpastian dampak konflik terhadap harga bahan bakar. Saat ini sudah banyak kembali dibuka, tetapi masih ada 5,77% yang masih tutup, kata Menteri Energi Keo Rottanak kepada Reuters.
Kamboja kini mengimpor lebih banyak bahan bakar dari pemasok di Singapura dan Malaysia untuk menutupi kekurangan pasokan dari Vietnam dan China, kata Rottanak kepada Reuters pada hari Rabu (18/3) kemarin.
Perang AS-Israel di Iran mempersempit ketersediaan bahan bakar secara global. Vietnam dan China telah membatasi ekspor bahan bakar setidaknya hingga akhir Maret untuk mencegah potensi kekurangan pasokan domestik.
Negara tetangga Thailand melarang ekspor pada Juli 2025 setelah dimulainya konflik bersenjata dengan Kamboja dan belum melanjutkan pasokan sejak saat itu.
Thailand dan Vietnam bersama-sama menyumbang lebih dari 60% impor produk minyak bumi tahunan Kamboja pada 2024, sementara Singapura dan Malaysia menyumbang hampir sepertiga dan China menyumbang sekitar 7%, menurut data dari International Trade Centre, sebuah badan perdagangan PBB-WTO yang berbasis di Jenewa.
Rottanak mengatakan Kamboja meningkatkan impor dari Singapura dan Malaysia karena pembatasan ekspor di tempat lain.
"Kami masih dapat mengimpor sedikit dari China. Tetapi karena kami memiliki kemitraan yang kuat dengan pemasok global Total dan Chevron, mereka mampu mengurangi sebagian risiko," katanya dalam sebuah wawancara dengan Reuters.
Rottanak tidak memberikan perincian spesifik tentang kapan pasokan dari Singapura dan Malaysia akan tiba, tetapi mengatakan stok bahan bakar saat ini sebanding dengan tingkat historis.
Ekspor bensin dan solar dari kedua negara ke Kamboja dalam 18 hari pertama bulan ini tercatat 25% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tetapi 40% lebih rendah dibandingkan 18 hari terakhir bulan Februari, menurut data Kpler.
Kamboja tidak memiliki kilang minyak. Negara itu memiliki pasokan solar, bahan bakar jet, gas minyak cair, dan bensin kurang dari satu bulan dalam kondisi normal, kata Rottanak.
"Kita belum 100% terlindungi pada tahap ini, tetapi arus masuk tampaknya baik-baik saja untuk saat ini," ia menuturkan.
(fab/fab)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































