Jakarta, CNN Indonesia --
Putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, Saif Al Islam Khadafi, tewas dibunuh oleh geng bersenjata di Kota Zintan pada Senin (2/2).
Berdasarkan laporan kantor berita Libyan News Agency, kematian pria 53 tahun pernah secara luas dipandang sebagai pewaris politik ayahnya ini dikonfirmasi oleh kepala tim politiknya pada Selasa (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengacara Saif dari Prancis Marcel Ceccaldi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh sebuah "unit komando beranggotakan empat orang" yang menyerbu kediamannya di Kota Zintan. Namun, hingga kini belum jelas siapa pihak yang berada di balik serangan itu.
"Dia (Seif) dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando," ucap Ceccaldi.
Koresponden Al Jazeera Arabic di Libya, Ahmed Khalifa, mengatakan pada Selasa bahwa Saif ditembak mati di Kota Zintan, tempat ia bermukim selama sekitar satu dekade terakhir.
Versi lain disampaikan oleh saudara perempuannya, yang mengatakan kepada televisi Libya bahwa Saif meninggal di dekat perbatasan Libya dengan Aljazair.
Media Libya melaporkan kamera pengawas di lokasi dimatikan sebelum serangan berlangsung. Dilansir Anadolu Agency, belum ada pihak yang mengeklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Saif. Milisi Brigade Tempur 444 bahkan secara tegas membantah keterlibatan dalam insiden ini.
Kantor Jaksa Agung Libya telah membuka penyelidikan atas pembunuhan tersebut, menurut media setempat.
Hingga kini, detail seputar pembunuhan masih belum jelas dan otoritas Libya pun belum mengeluarkan konfirmasi resmi.
Saif tidak pernah memegang jabatan resmi di Libya, tetapi sejak 2000 hingga 2011 ia dianggap sebagai orang nomor dua setelah ayahnya.
Saif dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dan paling ditakuti di Libya setelah ayahnya, yang berkuasa sejak 1969 hingga digulingkan dan tewas oleh serangan NATO selama pemberontakan pada 2011.
Saif ditangkap dan dipenjara di Zintan pada 2011 saat berusaha melarikan diri dari Libya setelah oposisi menguasai Tripoli. Ia dibebaskan pada 2017 sebagai bagian dari pemberian amnesti umum.
Saif menghadapi berbagai tuduhan penyiksaan dan kekerasan ekstrem terhadap para penentang rezim ayahnya. Pada Februari 2011, namanya masuk dalam daftar sanksi PBB dan ia dilarang bepergian.
Ia juga menjadi buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Libya pada 2011.
(rds)

3 weeks ago
6

















































