Memaknai Makrifat dengan Mengenal Allah SWT dan Diri Sendiri

2 hours ago 2

KULTUM KEMULIAAN RAMADAN

CNN Indonesia

Rabu, 04 Mar 2026 04:00 WIB

Makrifat merupakan tingkat tertinggi dalam mengenal Allah SWT dengan sepenuh hati. Bagaimana cara mencapainya? Ilustrasi. Makrifat merupakan tingkat tertinggi dalam mengenal Allah SWT dengan sepenuh hati. (istockphoto/selimaksan)

Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam Islam, makrifat dapat dikatakan sebagai pengetahuan atau ilmu dalam mengenal Allah SWT lebih jauh dengan sepenuh hati. Makrifat merupakan tingkat tertinggi dalam pengetahuan batin. Lalu bagaimana dengan orang yang kurang makrifat?

"Orang yang menganggap ada selain Allah yang lebih dekat, yang bisa menolong dia, bisa melindungi dia, itu belum makrifat, belum mengenal Allah," ujar ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia, Senin (2/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ma'ruf memberikan contoh, orang-orang ini banyak meminta pertolongan ke pihak lain selain Allah, entah itu ke pejabat, orang kaya, bahkan hingga ke dukun. Ia mengingatkan, hanya kepada Allah seharusnya kita menyembah dan meminta pertolongan.

"Kalau kita tidak menyembah Allah, kita syirik namanya. Kalau kita mengatakan [kepada orang lain] 'Kalau tidak karena Anda, saya tidak bisa begini,' itu syirik yang samar namanya," tutur Ma'ruf.

Seseorang bisa merasa dirinya tidak syirik karena hanya menyembah Allah. Namun ia dikatakan melakukan syirik yang samar karena mengandalkan atau memuja pihak lain selain Allah.

Mengutip dari makalah Syekh Nawawi al-Bantani, Ma'ruf lebih lanjut menjelaskan orang yang kurang makrifat juga belum mengenal dirinya sendiri.

Jika seseorang menduga ada musuh yang lebih besar daripada dirinya, maka ia belum mengenal diri sendiri. Mengapa demikian?

Rasulullah SAW pernah berkata, musuh yang paling besar adalah nafsu yang ada di dalam tubuh manusia sendiri. Nafsu tersebut, baik nafsu amarah yang mengacu pada hal-hal negatif, maupun nafsu lawamah yang cenderung merusak diri sendiri.

Bahkan di dalam Al-Qur'an disebutkan, jika nafsu yang menjadi imam, maka dunia akan rusak. Jika hawa nafsu yang diutamakan, langit, bumi, hingga orang-orang yang ada di dalamnya akan rusak pula.

Namun di antara semua nafsu yang bersifat menghancurkan, Ma'ruf mengatakan ada nafsu yang baik. Nafsu baik adalah nafsu yang ikut di jalannya Allah dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah. Selain itu, nafsu ini dapat dikendalikan.

"Tetapi tetap saja, nafsu adalah musuh terbesar kita. Ada dua musuh terbesar kita. Yang dari luar, [ada] iblis dan syaiton yang menggoda kita. ...yang satu lagi dari dalam kita sendiri, yaitu nafsu amarah tadi, selalu mengajak pada kejelekan," tutur Ma'ruf.

Menurut Ma'ruf, bulan Ramadhan ini menjadi momen penting untuk melatih mengendalikan nafsu. Namun nafsu tidak bisa dibuang, karena tidak mungkin manusia tidak memiliki nafsu. Jadi, kita harus belajar untuk mengendalikannya.

"Oleh karena itu, kita berharap bahwa Ramadan kali ini benar-benar menjadi Ramadan yang bisa memberikan kita pengaruh dalam hidup kita dalam waktu yang panjang, setahun yang akan datang, untuk bisa mengendalikan nafsu kita," ucap Ma'ruf menutup kultum.

(rti)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |