Kunci 100 Tahun Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi Sebut 1 Kata Rahasianya: Holistik!

8 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seratus tahun bukan waktu yang pendek bagi sebuah lembaga pendidikan untuk bertahan, apalagi berkembang. Di tengah pergolakan zaman yang telah menelan banyak institusi besar, Pondok Modern Darussalam Gontor justru memasuki abad keduanya dengan postur yang semakin kokoh, melahirkan ribuan alumni yang mewarnai hampir setiap sudut kehidupan bangsa Indonesia.

Di balik ketahanan yang luar biasa itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: apa sesungguhnya rahasia Gontor?

Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor sekaligus putra salah satu pendiri pondok, menyebut jawabannya dalam satu kata: holistik.

"Di pesantren itu, holistik pendidikannya. Orang banyak mendapatkan sesuatu di situ," kata Hamid dalam Forum SAJID Friday Morning Talk yang digelar Serikat Jurnalis Muslim Indonesia di AQL Islamic Center, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Pelopor yang Mendahului Zamannya

Untuk memahami kebesaran Gontor, seseorang harus kembali ke tahun 1926, ketika dunia pendidikan Islam Indonesia masih terbelah dalam dua kutub yang saling membelakangi: pesantren tradisional yang mengajarkan kitab kuning tanpa menyentuh ilmu pengetahuan modern, dan sekolah-sekolah kolonial Belanda yang memisahkan pendidikan dari akar keagamaan.

Di tengah dikotomi yang dianggap taken for granted itulah tiga bersaudara muda, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, yang kemudian dikenal sebagai Trimurti, memilih untuk tidak memihak keduanya. Mereka membangun jalan ketiga.

Pada 20 September 1926, di sebuah desa terpencil di Ponorogo, Jawa Timur, Gontor lahir bukan sekadar sebagai pesantren baru, melainkan sebagai manifesto pendidikan Islam yang sama sekali berbeda dari apa yang ada sebelumnya.

Gontor adalah lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia yang secara sistematis dan konsisten mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu atap, satu kurikulum, satu nafas, jauh sebelum konsep tersebut menjadi agenda besar reformasi pendidikan nasional. Sebuah terobosan yang, dalam bahasa akademik modern, disebut sebagai integrasi epistemologis: menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu duniawi sebagai dua entitas yang berbeda dan saling bermusuhan.

Sistem itu kemudian diwujudkan secara formal melalui Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyah atau KMI, sebuah kurikulum enam tahun setingkat menengah yang mencetak guru-guru Islam, bukan sekadar santri yang hafal kitab, tetapi pendidik yang menguasai bahasa Arab dan Inggris, memahami ilmu pengetahuan modern, sekaligus memiliki kedalaman akidah dan kekokohan akhlak.

"Gagasan pendidikan Gontor bermula dari keinginan tiga bersaudara pendiri untuk menghadirkan model pendidikan yang berbeda dari tradisi pesantren pada masa itu. Mereka ingin mencetak ulama yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan dasar keagamaannya," jelas Hamid.

Lebih dari Sekolah: Sebuah Peradaban Kecil

Namun Gontor tidak berhenti pada kurikulum. Justru di sinilah letak keunikan terdalamnya yang sulit ditiru. KMI hanyalah kerangka formal. Kekuatan sesungguhnya Gontor terletak pada sesuatu yang tidak tertulis dalam silabus manapun: kehidupan pesantren sebagai laboratorium peradaban yang berjalan 24 jam tanpa henti.

Seorang santri Gontor tidak hanya belajar di ruang kelas. Ia hidup dalam ekosistem pendidikan yang dirancang dengan sangat teliti. Setiap jam, setiap interaksi, setiap aktivitas, bahkan setiap sapaan di lorong asrama adalah bagian dari proses pembentukan manusia.

"Jadi pesantren itu punya nilai. Di dalam pesantren itu ada sistem kehidupan yang tidak dimiliki oleh sekolah," kata Hamid.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |