Jakarta, CNBC Indonesia - PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mencatat laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal I tahun 2026 sebesar Rp 801,7 miliar. Capaian tersebut meroket 105% dibanding kuartal I tahun 2025 yang sebesar Rp 391,4 miliar.
"Di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, Perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent, sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya," kata Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).
Disebutkan bahwa, pendapatan usaha PTBA hingga kuartal I tahun ini tak ada peningkatan secara presentasi karena turun tipis dari Rp 9,95 triliun menjadi Rp 9,92 triliun. Sementara untuk beban pokok pendapatan turun 6% dari Rp 8,9 triliun menjadi Rp 8,3 triliun.
Sehingga, laba kotor PTBA hingga kuartal I naik 47% dari sebelumnya Rp 1,47 triliun menjadi Rp Rp 1,5 triliun. Sementara laba usahanya meroket 98% dari sebelumnya Rp 442,8 miliar menjadi Rp 868,02 miliar.
Penurunan ini seiring dengan penurunan volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 22% secara tahunan maupun angkutan yang juga turun 7% secara tahunan. Selain itu, dari sisi stripping ratio juga tercatat lebih rendah di angka 5,31x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,42x.
Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Maret 2026 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 53%, sedangkan sisanya 47% merupakan ekspor.
"Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand," sebutnya.
Meskipun volume penjualan turun 1% secara tahunan, namun respon harga batu bara berbeda pada periode ini, yang mana Newcastle Index naik 14% secara tahunan tetapi ICI-3 turun 2% secara tahunan, berimbas pada penguatan harga jual rata-rata yang tercatat naik 1% YoY.
Sementara untuk beban pokok pendapatan turun 6% dari Rp 8,9 triliun menjadi Rp 8,3 triliun. Hingga kuartal I, PTBA menyebut beban operasional naik sebesar Rp61,37 miliar atau 10% dari periode yang sama sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan di komponen beban
Menurutnya, dengan adanya konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM/liter, meskipun untuk periode ini masih relatif kecil (+3% YoY). "Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh Perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api," tambahnya.
Total aset pada 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp43,23 triliun atau turun 2% dibandingkan akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp43,92 triliun. "Hal tersebut
disebabkan oleh penurunan persediaan serta kas dan setara kas Perusahaan," pungkasnya.
Ia menambahkan, belanja modal sampai dengan 31 Maret 2026 terealisasi sebesar Rp470 miliar dengan mayoritas digunakan untuk Pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Corporate Secretary Division Head, Eko Prayitno menyebut, capaian pada kuartal ini menunjukkan fondasi operasional Perseroan tetap solid di tengah tantangan eksternal, termasuk kondisi cuaca yang memengaruhi produksi dan kondisi geopolitik yang mulai memanas.
"Dengan fondasi operasional yang solid, Perseroan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," tutupnya.
(ayh/ayh)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































