Foto: Kondisi air di Kampung Pangkalan, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung yang diduga tercemar limbah.
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Aliran Sungai Cihaur, di Kampung Pangkalan, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat kembali tercemar. Airnya berwarna berwarna merah, dipenuhi busa, serta mengeluarkan bau menyengat.
Limbah cair tampak mengalir dari sebuah saluran pembuangan berukuran besar yang berada tepat di sisi sungai yang merupakan bagian dari daerah aliran sungai (DAS) Citarum itu. Aliran tersebut kemudian masuk ke badan sungai yang bermuara ke Waduk Saguling.
Kondisi tersebut muncul setelah petugas lingkungan turun ke lokasi dan mengambil sampel untuk mengusut sumber limbah pada Agustus lalu karena tercemar. Pencemaran tersebut juga mulai mengganggu aktivitas warga yang selama ini menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari Sungai Cihaur.
"Pagi sudah terlihat lagi limbahnya mengalir ke sungai. Kalau sumber pastinya saya tidak tahu. Warga hanya menduga dari aktivitas pencelupan kain," kata Didin (50 tahun), salah seorang warga, kemarin.
Didin mengatakan warna limbah yang masuk ke sungai juga tidak selalu sama. Kondisi tersebut terkadang membuat air sungai berubah menjadi merah, hitam maupun putih dan disertai busa.
“Warnanya kadang merah, hitam, atau putih. Beberapa tahun lalu juga pernah sampai panas dan mengeluarkan seperti asap,” ujarnya.
Ia menilai kondisi sungai terkadang terlihat lebih baik pada waktu tertentu. Salah satunya saat akhir pekan atau ketika terdapat aktivitas pengambilan sampel air oleh pihak perusahaan.
“Biasanya hari Minggu paling mending. Saat ada pengambilan sampel air juga debitnya kecil dan busanya tidak ada. Tapi setelah selesai, kondisinya kembali seperti ini,” tuturnya.
Menurut Didin, pencemaran tersebut turut berdampak terhadap kehidupan ikan di Sungai Cihaur. Populasi ikan terus berkurang hingga hanya beberapa jenis yang masih mampu bertahan.
“Ikan sekarang sudah banyak yang habis. Yang masih bertahan paling ikan gabus,” katanya.
Kondisi air yang tercemar juga membuat Didin tidak berani menggunakan air Sungai Cihaur untuk mengairi tanaman palawija miliknya. Ia khawatir air tersebut justru merusak tanaman sebelum memasuki masa panen.
“Saya tidak berani menggunakan air sungai untuk menyiram tanaman palawija. Kalau kena daunnya, tanaman bisa langsung layu,” ujarnya.
Berita Lainnya

2 hours ago
5
















































