REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) membuka peluang magang internasional bagi mahasiswanya ke Taiwan dengan gaji mencapai Rp 10 juta per bulan. Kesempatan tersebut terwujud melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIA dan Yuzhong Human Resources Development, yang digelar bersamaan dengan pelantikan pimpinan universitas masa bakti 2026–2030.
Ketua Yayasan As-Syafiiyah, Prof Dr Dailami Firdaus mengatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis UIA dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya generasi muda pencari kerja.
“Hari ini kami di Universitas Islam As-Syafiiyah, selain mengadakan pelantikan jajaran pimpinan dan lembaga, juga melaksanakan kerja sama internasional dengan Taiwan dan Singapura. Sebelumnya kami sudah bekerja sama dengan Jepang, Thailand, dan Yordania. Tapi hari ini spesial karena menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama pencari kerja,” ujar Prof Dailami saat ditemui usai acara pelantikan di Kampus UIA, Kota Bekasi, Rabu (14/1/2026).
Ia menegaskan, kerja sama dengan Yuzhong Taiwan dan mitra dari Singapura diharapkan menjadi solusi konkret bagi mahasiswa agar memiliki pengalaman kerja global sekaligus kesejahteraan yang layak.
Perwakilan Yuzhong Human Resources Development di Taiwan, Leles Sudarmanto menjelaskan, program magang ini terbuka bagi mahasiswa Indonesia yang berasal dari perguruan tinggi mitra resmi, termasuk UIA. Mahasiswa semester enam ke atas berkesempatan mengikuti magang dengan insentif menarik.
“Mahasiswa bisa magang ke Taiwan, mendapatkan kompensasi yang cukup luar biasa dan dikonversikan hingga 20 SKS. Gajinya berkali lipat dari UMR Indonesia, sekitar Rp 9 juta sampai Rp 10 juta per bulan,” kata Leles.
Selain gaji, peserta magang juga memperoleh fasilitas lengkap, mulai dari tempat tinggal, makan, hingga pengalaman kerja industri internasional. Menariknya, keberangkatan ke Taiwan tidak dipungut biaya di awal.
“Berangkatnya tidak dipungut biaya. Biaya akan dikonversikan dari pendapatan mahasiswa dengan potongan yang wajar. Ini berbeda dengan banyak program lain yang minta bayar besar di awal, tapi belum tentu pekerjaannya jelas,” ujar dia.
Leles mengapresiasi UIA yang dinilai memiliki birokrasi fleksibel dan progresif dalam mendukung internasionalisasi mahasiswa. Menurutnya, keberanian pimpinan UIA mengambil kebijakan strategis menjadi kunci keberhasilan program ini.
Sementara itu, Rektor UIA Prof Dr Masduki Ahmad menegaskan bahwa program magang internasional ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong lulusan perguruan tinggi berdampak langsung bagi masyarakat.
“Dalam aturan Kemdiktisaintek, salah satu indikator keberhasilan lulusan adalah penghasilan minimal setara UMR. Di UIA, saat magang pun mahasiswa sudah kami arahkan melampaui itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya membangun kompetensi kerja, tetapi juga membentuk mindset global dan kemandirian mahasiswa.
“Mahasiswa belajar mengatasi dirinya sendiri, mempersiapkan masa depan, dan memiliki wawasan internasional. Ini inline dengan kebijakan Pak Menteri bahwa mahasiswa harus berdampak,” kata Prof Masduki.
Terkait jumlah peserta, Yuzhong tidak menetapkan target khusus. Pemerintah Taiwan sendiri membuka kuota sekitar 200 peserta per bulan untuk mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia, termasuk mahasiswa UIA. Proses seleksi akan dilakukan melalui penyaringan dan wawancara, termasuk kesiapan bahasa dan mental tinggal di luar negeri.
Kemampuan bahasa yang disyaratkan juga relatif ringan, dengan skor TOEFL sekitar 100-an, dan mahasiswa akan dibekali pelatihan bahasa sebelum keberangkatan.

2 hours ago
1















































