Asap hitam tebal mengepul ke udara di atas pelabuhan Jebel Ali setelah terkena puing-puing dari rudal Iran yang dicegat, di Dubai, Uni Emirat Arab, Ahad (1/3/2026). Iran melancarkan serangan udara balasan di wilayah tersebut menyusul operasi militer gabungan Israel-AS sebelumnya yang menargetkan beberapa lokasi di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konfrontasi panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase baru pada Sabtu ketika serangan udara gabungan AS–Israel menargetkan Iran, menandai terbukanya permusuhan militer secara langsung. Ketika Presiden AS Donald Trump memberi sinyal operasi dapat berlangsung selama empat hingga lima pekan, muncul pertanyaan apakah Washington mampu mempertahankan perang baru di Timur Tengah dan berapa biaya yang pada akhirnya harus ditanggung.
Dilansir Aljazirah, Rabu (4/3/2026), pada 28 Februari 2026, Trump dalam video berdurasi delapan menit di media sosial Truth Social mengonfirmasi bahwa AS telah mengambil bagian dalam apa yang ia sebut sebagai “operasi tempur besar” di dalam wilayah Iran.
Pentagon kemudian menyatakan misi tersebut diberi nama Operation Epic Fury.
Trump mengatakan tujuan operasi itu adalah untuk “memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir”.
“Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudalnya hingga ke tanah. Itu akan benar-benar dilenyapkan,” ujarnya.
Militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 1.250 target di Iran sejak operasi dimulai pada Sabtu. Dalam pernyataan terpisah, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyebut telah menyerang dan menghancurkan 11 kapal Iran.
Operasi tersebut dilaporkan melibatkan serangan udara, rudal jelajah yang diluncurkan dari laut, serta serangan terkoordinasi terhadap fasilitas terkait nuklir dan sejumlah pejabat tinggi yang terkait dengan lembaga pertahanan Iran.

1 hour ago
2

















































